.

.

Pages

Mantau / Musik Pengiring Tari Tauh Masyarakat Kerinci Jambi

Tauh dalam tari adalah ‘ta’ berarti tarap dan ‘uh’ berarti jauh. Jadi, tauh adalah singkatan dari tarap jauh. Tarap artinya memanggil, mengajak atau meminta seseorang
untuk ikut bersamanya. Apabila dalam suatu keramaian di sebuah acara di desa,  maka tauh itu berarti mengajak seseorang untuk ikut bernari.
 Menari disini bukanlah menari secara berdekatan, tapi menari  dengan  jarak  kira-kira 3 atau 4 langkah secara berpasangan. Mulai saat  itulah tauh berarti menarap dari jauh dan mengajak menari secara berjauhan. Pengertian yang lebih luas lagi tauh adalah mengajak orang lain untuk menari bersama-sama dengan menggunakan jarak, sehingga diantara penari itu tidak saling bersentuhan.
Jadi, arti tauh di desa itu adalah menari bersama-sama atau berpasangan. Mari bertauh maksudnya mari menari. Tari tauh hanya ada di kecamatan Gunung Raya, desa Lempur khususnya. Selain di desa ini di desa lainpun juga sudah berkembang, namun asal tari ini berkembang di desa Lempur.

A.   Sejarah dan Perkembangan  Mantau / Musik Pengiring Tari Tauh

      Di daerah kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci bagian Selatan, dulu ada tiga penguasa yang disebut Pamuncak Nan Tigo Kaum, yaitu Pamuncak Tuo (Magek Bagonjong), berkedudukan di Pulai Sangkar, Pamuncak Tengah (Puti Sari Bumi) berkedudukan di Koto Tapus. Desa Lempur termasuk dalam Penguasa Pamuncak Tuo. Ketika Pamuncak itu sangat bersahabat, sehingga segala kejadian yang baik dan buruk dalam daerah masing-masing, mereka saling memberitahukannya kepada para sahabat itu.
Pekerjaan yang sering mereka lakukan setiap tahun adalah Kenduri Adat. Acara ini biasanya diselenggarakan setiap setelah panen padi. Kalau ada Depati yang akan diangkat, pada waktu kenduri itulah dinobatkan. Untuk memeriahkan acara itu, maka dua Pamuncak lainnya diundang pula untuk menghadiri, dengan cara mengirim buhul tali. Dan biasanya undangan itu tidak pernah ditolak. Apabila Pamuncak berhalangan datang, karena sakit misalnya, maka istri atau keluarganya harus juga memenuhi undangan itu. Rombongan undangan yang datang itu tidak saja dua atau tiga orang, tetapi mereka datang dengan rombongan besar, tua muda, besar kecil, tak ketinggalan muda-mudinya. Kedatangan rombongan itu disambut dengan acara yang meriah, dengan menyodorkan sekapur sirih dan pertunjukan kesenian anak negri, terutama pencak silat. Permainan pencak dengan alat pedang.
Kenduri adat itu dilaksanakan dengan meriah sekali. Selesai melakuakn acara di rumah gedang, maka dihalamannya dilaksanakan pula acara tauh. Dalam acara tauh, ketiga rakyat dari ketiga Pamuncak itu saling berkenalan satu sama lainnnya, baik sama-sama orang tua, sama- sama dewasa ataupun muda-mudinya. Halaman rumah gedang itu merupakan sebuah arena. Disanalah mereka saling memperkenalkan diri satu sama lainnya dengan bertauh. Maka ramailah arena tu oleh orang-orang yang bertauh. Tua sama tua, dewasa sama dewasa, muda sama muda pula, baik laki-laki sama laki-laki, perempuan sama perempuan, tapi kebanyakan adalah laki-laki sama perempuan, apalagi yang muda- mudinya, merekalah yang paling ramai. Muda-mudi yang sudah sama-sama jatuh hati ketika bertauh itu, maka biasanya mereka terus meningkat ke jenjang perkawinan. Maka terjadilah perkawinan asimilasi dengan masyarakat ketiga Pemuncak itu, akibat tari tauh itu.
Alat Musik Tari Tauh Redap dan Gung

B.  Fungsi Tari Tauh
   Tari tauh termasuk tari pergaulan, tidak saja dipertunjukkan oleh muda-mudi, tetapi juga yang tua-tua, misalnya dalam acara keramaian kenduri sko, maka yng menari adalah tua-muda, laki-laki perempuan, bahkan kakek-nenek dan nenek-nenek juga ikut menari berpasangan membawakan tari tauh ini. Pasangannnya tidak terikat muda-mudi saja, tetapi boleh juga lelaki saja atau wanita saja.
            Fungsi Mantau di antaranya :
            • digunakan untuk penyambutan tamu kehormatan.
           • untuk mengiringi tari Tauh pada saat kenduri adat, seperti kenduri Sko, berelek   Gedang dan beselang Gedang (gotong royong menuai padi).
            • Tari tauh juga berfungsi sebagai sarana hiburan, menemukan pasangan hati.

C.   Cara Penyajian atau Penampilan Tari Tauh

Gerak langkah :
     Gerak langkah tari ini disebut “Langkah Tigo”, artinya langkah tiga. Apabila kaki kanan dulu melangkah, maka kiri menurutinya, lalu kaki kanan  menurutinya dan kaki pula mundur. Begitulah seterusnya. Langkah-langkah itu kadang-kadang berbelok ke kanan, kadang-kadang ke kiri, sesuai dengan arah gerakan tangan.
    Tetapi ada juga langkah-langkah yang maju saja, atau melangkah di tempat saja. Ada juga yang berputar di tempat saja, atau kalau bergerak di tempat, maka hanya tapak kaki kanan saja yang dii gerakkan turun naik, sesuai dengan gerakan tubuh dan angguk-angguk kepala yang turun naik pula.
Gerak tubuh :
     Gerakan tubuh bermacam-macam pula. Ada yang disebut gerakan “Gunung Kunyit”, ada pula gerakan “Gunung Kayu”, “Gunung Merapi”, “Bukit Mangan” dan lain-lain. Jadi untuk menentukan gerakan mana yang akan dibawakan, maka orang yang diajak bertauh itu lebih dahulu melihat gerakan dari orang yang mengajak. Gerakan ini dapat diketahui setelah keduanya memberi salam kepada seluruh pengunjung.
Gerak Kepala :
      Gerakan kepala disesuaikan dengan gerakan langkah, tubuh dan tangan. Apabila tubuh miring ke kanan, maka kepala dimiringkan pula ke kanan, begitu pula sebaliknya. Kalau gerakan tubuh dan kaki turun naik, maka gerakan kepala pun turun naik juga.
Gerak Tangan :
    Gerak tangan banyak pula macamnya. Ada yang disebut ‘menarap’, ada pula gerak ‘salam’, ‘gerak langkah maniti buih’, dan lain-lain. Oleh karena tari tauh ini termasuk dalam kategori tari pergaulan, maka sketnya agak bebas. Hanya saja bagi kedua penari tau kemana gerakan itu di arahkan. Kalau yang mengaja kmengarah ke kiri, maka yang diajak juga mengarah ke kiri. Begitu juga sebaliknya kalau ke kanan. Oleh karena itu mereka selalu berhadapan, maka gerakan-gerakan keduanya selalu berlawanan.
Sket
1.    Sebagai pendahuluan dari tari disebut menarap, yaitu mengajak. Seorang pria misalnya ingin berkenalan dengan seorang gadis, maka berdiri dan menghampri gadis tersebut. Cara menarap atau mengajak gadis itu agar mau bertauh dengannya adalah dengan menyusun kesepuluh jari tangan seperti orang persembahan. Tapak tangan ini di gerakkan ke atas dan kebawah, sesuai dengan gerakan kaki dan tubuh, sehingga seluruh badan akan bergerak turun naik. Tentu saja cara ini dengan senyum-senyum manis pula, agar yang di ajak tergerak hatinya untuk menari. Apabila yang diajak atau yang ditarap belum mau, maka tangan diangkat sedikit sampai ke muka, berarti lebih tinggi harapannya. Kalau masih belum mau, maka tangan diangkat lebih tinggi lagi dari kepala, berarti harapannya lebih tinggi lagi dari kepala, berarti harapannya lebih tinggi Lagi, agar gadis itu mau bertauh dan bergembira bersamanya.
2.    Apabila yang diajak sudah berdiri dengan menyusun jari pula, yang mengajak balik kanan dan maju ke arena yang diikuti oleh gadis tadi. Sampai di tengah keduanya saling berhadapan dengan jarak kira-kira empat langkah.
3.    Sebagai saling menghormati, masing-masing penari itu meletakkan kedua telapak tangan di paha kanan masing-masing, dengan maksud keduanya telah siap bertauh. Sambil mengintai gerakan lawan, masing-masing mereka melihat kemana arah gerakan lawannya. Biasanya yang bergerak terlebih dahulu aalah yang mengajak, sedangkan yang diajak mengikutinya. Untuk menghormati tamu biasanya sebelum mereka bertauh, lebih dahulu memberi hormat kepada tamu dengan berkeliling di tempat sambil menyusun jari dan menganggukkan kepala.
4.    Apabila yang seorang melakukan gerakan menyerang, maka yang seorang lagi melakukan gerakan megelak seperti orang bersilat. Begitulah seterusnya mereka saling serang-menyerang dan elak mengelak. Ada juga yang membawakan gerakan lain, seperti gerakan mengintip, tangan kanan diletakkan di dahi, tangan kiri di pinggang dan lain-lain.

D.   Jenis Alat Musik
Sebagai pengiring tari tauh adalah alat-alat musik dan nyanyi. Alat-alatnya adalah dua buah dap dan gong. Bentuk dap ini seperti rebana, berbentuk lingkaran dan memakai tubuh, dengan garis tengah kira-kira 50 cm. Bahannya adalah sepotong balok besar, kulit binatang, biasanya kulit biri-biriatau kambing betina, rotan dan potongan-potongan kayu.
Sepotong balok besar, kira-kira sepanjang 25 cm dan garis tengah kira-kira 50 cm, dilobangi tengah-tengahnya, sehingga bentuk balok itu menjadi bolong melingkar. Tinggal lagi pinggirnya kira-kira 1 sampai 2 cm. Kayu yang dipergunakan adalah kayu yang baik, tahan bubuk dan air. Biasanya kayu dari batang nangka tetapi kebanyakan dari batang kelapa.
Membuat alat-alat ini adalah dengan pahat dan palu. Sebelum adanya alat gergaji, untuk memotong balok itu di pergunakan beliung besi. Lingkaran sebelah atau tempat mengikat kulit binatang lebih luas dari bagian bawahnya. Kalau garis tengah bagian atas kira-kira 50 cm, maka lingkaran bagian bawahnya kira-kira garis tengah 45 cm.
Rotan dipergunakan untuk mengikat dan mengeratkan letak kulit tersebut. Dua  buah lingkaran rotan diikatkan pada bibir atas dan bibir bawah dap tersebut. Dan kedua lingkaran rotan itu dihubungkan pula oleh beberapa potong rotan lagi, unutk lebih menguatkan ikatannya. Disamping untuk menguatkan kedudukan kedua lingkaran rotan itu, rotan-rotan atau tali-tali yang menghuungkan keduanya dipergunakan pula untuk mengatur bunyi dap itu. Pada tali-tali itu dipasang pula potongan-potongan kayu, kira-kira sebesar 5 cm dan dipasakkan pada tali-tali itu . untuk mengatur bunyinya, maka potongan-potongan kayu itu dipukul-pukul. Mau berbunyi lembab atau nyaring, maka pada potongan kayu itulah letak pengaturannya.
Alat pengiring yang lain adalah gong. Alat in hanya di pergunakan satu buah saja, cara memukulnya hanya satu-satu, sebagai peningkah dap tadi, disamping mengatur tempo agar teratur. Gong ini digantungkan, sedangkan yang memainkannya duduk biasanya baik yang tukang dap maupun tukang gong itu duduk di lantai saja.

 E.    Musik pengiring Pantun untuk Mengiringi Tari Tauh (Mantau)
    Sebagai pengiring tari ini adalah berupa alat tabuhan dan vokal. Alat tabuhannya adalah dua buah rebana besar yang disebut dap dan sebuah gong. Yang menabuh dap adalah laki-laki, dan yang menabuh gong biasanya seorang perempuan.
   Vokal disebut mantau, artinya memanggil dengan suara yang lengking dan lantang oleh seorag wanita atau juga saling bersahutan antara laki-laki dan perempuan. Vokal yang juga disebut seni suara atau nyanyi berisikan pantun-pantun. Ada pantun muda-mudi, pantun nasib dan lain-lain. Irama dari pada mantau tersebut adalah :

M A N T A U
Pemuda :
            Cubo-cubo klasik julai
            Mak tantu padi dengan gento
            Cubo-cuo usik dengan kami
            Mak tantu budi dengan baso
Pemudi :
Apo di arap padi jerami
Padi idak gento idak ado
Kacang remang jauh sekali
Apo di arap pada kami
Budi idak basi idak ado
Padoman jauh sekali
Pemuda :
          Rebab mano rebano mano
          Mako bagantung dimuko pintubicang
Sebab mano karano mano
Sbab babincang sarupo,  itu
Pemudi :
          Tabung nabang anak Cino
          Singgah malingkah talang kamulan
Badan kam terlebh hell
Mano diletakkan badan itu
Pemuda :
            Mak ngelih tembang ujung tali
            Klihlah tambang sungai ayei ilei
            Kalau ngelih tunggang hati kami
            Klihlah tambang sungai toli
Pemudi :
manidak mandi di tanjung
mandi ka lubuk batu patah
tibo di tepi bagerai rambut
manidak jadi sabandung berarti
jadi rajuk dendam jadi rujuk dengan baik sudah?
Pemuda :
            Bulan stukup namo kreta
  Plat-plat namo jari
  Bukan pletok gedang ota
            Tuhan Allah jadi saksi
Pemudi :
            Bajulah tempek ndak mandi
            So tellok duo rantau
  Katigo rantau Tembesi
  Lah pilih tempek ndak jadi
  So ilok kaduo pandai
  Katigo anak depati

Arti pantun-pantun tersebut adalah :
Pemuda :
          Coba-coba kerisik menjulai
Agar tentu padi dengan genta
Coba-coba bercanda dengan kami
Agar tentu budi dengan basa
Pemudi :
            Apa diharap padi jerami
          Padi tidak genta tidak ada
Kacang remang jauh sekali
Apa diharap pada kami
Budi tidak basapun tidak ada
Pedoman jauh sekali
Pemuda :
Rebab mana rebana mana
Maka bergantung dimuka pintu
Sebab mana karena mana
Sebab berbincang serupa itu
Pemudi :
Tebang menebang anak Cina
Singgah sebentar kalang kemulun
Badan kami terlebih hina
Mana diletakkan badan itu?
Pemuda :
         Jangan dilihat tambang ujung tali
Lihatlah tambang sungai Toli
Kalau melihat curahan hati kami
Lihatlah curahan air mengalir
Pemudi :
            Kalau tidak mandi di tanjung
          Mandi ke lubuk batu patah
Tiba di tepi bergerai rambut
Kalau tidak jadi sebenar jadi
Jadi rajuk dendam tak sudah
Jadi sedih selama hidup
Pemuda :
          Bulan Stukup nama kereta
          Pelat-pelat jadi jari-jari
Bukan bergurau besar bicara
Tuhan allah jadi saksi
Pemudi :
Bajulah tempat hendak mandi
Satu teluk dua rantau
Ketiga rantau tembesi
Telah dipilih tempat hendak jadi
Satu elok kedua pandai
Ketiga anak depati

 F.    Kostum yang digunakan
Kostum Tari Tauh
Pakaian yang digunakan waktu menari itu adalah pakaian biasa, pakaian apa yang dipakai waktu keramaian itu, pakaian itu pula yang dipergunakan untuk menari tersebut. Ada yang sedang berpakaian adat, ada yang sedang memakai baju kurung, ada yang sedang memakai pakaian silat dan sebagainya. Jadi pakaiannya tidak terikat. Namun secara khusus Kostum yang dikenakan Baju Bludru Hitam atau coklat dengan hiasan kepala Kliuluk, tisu (agar mudah di pasang), kecipung (biasa dipakai istri raja), peribut (untuk dayang-dayang rraja). Selain itu juga menggunakan selendang merah yang bermakna keberanian. Rok penari wanita dinamakan Tanjung beremas. Makna dari kostum tersebut : berjiwa luhur, berlapang dada.

Sumber:
Hasil Pengamatan dan wawancara Siswa SMA Negeri I di Desa Lempur Kab. Kerinci