.

.

Pages

Makalah Karakteristik Perkembangan Remaja

A.    Makna Masa Remaja

Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa anak menuju masa ke dewasa. Masa remaja di sebut juga adolescence yang dalam bahasa latin berasal dari kata adolescere, yang berarti “to grow intoadulthood”. Adolesen merupakan periode transisi dari masa anak ke masa dewasa, dalam mana terjadi perubahan dalam aspek biologis, psikologis dan sosial.
                                                                  

B.     Karakteristik Setiap Aspek Perkembangan

1.      Perkembangan Fisik

Masa remaja yang di awali dengan pubertas, adalah masa kematangan fisik yang sangat cepat, yang meliputi aspek hormonal dan perubahan fisik. Perubahan fisik pada remaja pria meliputi:
a.       Membesarnya ukuran kemaluan.
b.      Tumbuhnya bulu di daerah-daerah tertentu pada anggota tubuh.
c.       Perubahan suara.
d.      Terjadinya ejakulasi pertama.
Sementara perubahan fisik pada remaja wanita di tandai dengan :
a.       Menstruasi pertama.
b.      Mulai membesarnya payudara.
c.       Tumbuhnya bulu di daerah-daerah tertentu pada anggota tubuh.
d.      Membesarnya ukuran pinggul.

2.      Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan (kapasitas) individu untuk menipulasi dan mengingat informasi.
Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif remaja berada pada tahap “Formal operation stage”, yaitu tahap ke empat atau terakhir dari tahapan perkembangan kognitif. Tahapan berfikir ini terdiri dari dua sub periode (Broughton dalam John W.Santrock, 2010:97), yaitu:
a)      Early formal operational thought, yaitu kemampuan remaja untuk berfikir dengan cara-cara hipotetik yang menghasilkan pikiran-pikiran sukarela (bebas) tentang berbagai kemungkin yang tidak terbatas. Dalam periode awal ini, remaja mempersepsi dunia sangat subjektif dan idealistik.
b)      Late formal operatioanal thought, yaitu remaja mulai menguji pikirannya yang berlawanan dengan pengalamannya, dan mengembalikan keseimbangan intelektualnya. Melalui akomodasi (penyesuaian terhadap informasi/hal baru), remaja mulai dapat  menyesuaikan terhadap bencana atau kondisi pancaroba yang telah di alaminnya.

3.      Perkembangan Identitas Diri (Self-Identity)
Identitas diri merupakan potret dari yang meliputi berbagai hal (Santrock, 2008) sebagai berikut.
a.       Vocational/career identity, yaitu pekerjaan yang diinginkan oleh seseorang untuk menjalaninya.
b.      Political identity, yaitu arah sikap politik seseorang, seperti apakah konservatif atau liberal.
c.       Religious identity, yaitu keyakinan spiritual seseorang.
d.      Relationship identity, yaitu terkait dengan status seseorang, apakah lajang, sudah menikah, atau bercerai.
e.       Achievement, intellectual identity, yaitu motivasi seseorang untuk berprestasi atau mencapai tingkat intelektualitas yang tinggi.
f.       Sexual identity, yaitu menyangkut orientasi seksual seseorang, apakah heteroseksual, homoseksual atau biseksual.
g.      Cultural/ethnic identity, yaitu terkait dengan warisan budaya yang menjadi rujukan identifikasi seseorang secara intensif.
h.      Interest identity, yaitu sesuatu yang disenangi seseorang untuk melakukannya seperti olahraga, musik dan hobi.
i.        Personality identity, yaitu terkait dengan karakteristik kepribadian individu, seperti introvert atau extrovert, cemas atau tenang, bersahabat atau bermusuhan.
j.        Physical identity, yaitu citra individu terhadap tubuhnya.

4.      Perkembangan Emosi

Meskipun pada usia remaja kemampuan kognitifnya telah berkembang dengan baik, yang memungkinkannya untuk dapat mengatasi stres atau fluktuasi emosi secara efektif, tetapi ternyata masih banyak remaja yang belum mampu mengelola emosinya, sehingga mereka banyak mengalami depresi, marah-marah dan kurang mampu meregulasi emosi. Kondisi ini dapat memicu masalah, seperti kesulitan belajar, penyalahgunaan obat dan perilaku menyimpang.

5.      Perkembangan Kesadaran Beragama

Masa remaja sebagai segmen dari siklus kehidupan manusia, menurut agama merupakan masa starting point pemberlakuan hukum syar’i (wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah) bagi seorang insan yang sudah baligh (mukallaf). Oleh karena itu, remaja sudah seharusnya melaksanakan nilai-nilai atau ajaran agama dalam kehidupannya.
Sebagai mukallaf, remaja (laki-laki atau perempuan) dituntut untuk memiliki keyakinan dan kemampuan mengaktualisasikan (mengamalkan) nilai-nilai agama (akidah, ibadah, dan akhlak) dalam kehidupannya sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Nilai-nilai agama yang seharusnya diaktualisasikan itu dapat disimak dalam tabel berikut.
Untuk memperoleh kejelasan lebih lanjut tentang perkembangan kesadaran beragama remaja, dapat disimak pada uraian berikut.

a.      Masa Remaja Awal (Usia 13-16 Tahun)
Kegoncangan dalam keagamaan ini mungkin muncul, karena disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
a)      Faktor internal
1.      Matangnya organ-organ seks yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun disisi lain dia tahu bahwa perbuatan itu dilarang oleh agama. Kondisi ini menimbulkan konflik pada diri remaja, yang apabila tidak secepatnya terselesaikan, maka mungkin remaja itu akan terjerumus ke dalam perilaku yang nista.
2.      Berkembangnya sikap independen, keinginan untuk hidup bebas, tidak mau terikat dengan norma-norma keluarga, sekolah atau agama.
b)      Faktor eksternal
1.        Perkembangan kehidupan sosial budaya dalam masyarakat yang tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai agama, namun sangat menarik minat remaja untuk mencobanya, seperti beredarnya film-film, VCD atau foto-foto porno, penjualan minuman keras dan alat-alat kontrasepsi yang bebas, semakin maraknya peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya.
2.        Perilaku orang dewasa, orang tua sendiri, para pejabat dan warga masyarakat yang gaya hidupnya kurang memepedulikan agama, bersifat munafik, tidak jujur dan perilaku moral lainnya.

b.      Masa Remaja Akhir (Usia 17-21 Tahun)
Untuk mengetahui gambaran kesadaran beragama dikalangan remaja akhir, sebagai berikut.
a.       Pengembangan Pemahaman Agama
Hasil penilitian menunjukkan bahwa hampir setengah para siswa
1.    Merasa malas untuk mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan
2.    Kurang berminat untuk mengikuti kegiatan keagamaan
3.    Kurang senang membaca buku-buku agama
4.    Kurang tertarik untuk  mengikuti diskusi tentang keagamaan
b.      Keyakinan terhadap Agama sebagai pedoman hidup
Hasil penilitian menunjukkan bahwa hampir semua siswa meyakini agama sebagai pedoman hidup yang akan membawa kepada kebahagiaan hidup, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.
c.       Keyakinan bahwa setiap perbuatan manusia tidak lepas dari pengawasan Tuhan
Sebagian besar siswa meyakini akan pengawasan Allah terhadap semua perilaku dirinya.
d.      Keyakinan terhadap Hari Akhirat
Hampir semua siswa meyakini akan adanya hari akhirat,. Mereka meyakini bahwa amal perbuatannya akan mendapat balasan dari Allah Swt.
e.       Keyakinan bahwa Allah Maha Penyayang dan Maha Pengampun
Hampir semua siswa meyakini bahwa Allah Maha Penyayang dan Pengampun. Sementara sebagian kecil dari mereka meragukan sifat-sifat Allah tersebut.
f.       Pengamalan Ibadah Shalat
Sebagian siswa sudah terbiasa untuk melaksanakan shalat, namun sebagian lagi masih merasa malas untuk melaksanakannya.
g.      Mempelajari Al-Qur’an
Hampir semua siswa merasa perlu untuk mempelajari Al-Qur’an. Namun, di antara mereka masih ada juga yang belum merasa tertarik untuk mempelajarinya.
h.      Berdo’a kepada Allah
Sebagian siswa sudah terbiasa memanjatkan do’a kepda Allah Swt. Baik siang maupun malam.
i.        Mengendalikan diri dari perbuatan yang Dilarang Agama
Hampir semua siswa sudah mampu mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang agama. Namun sebagian kecil dari mereka masih suka melanggar norma-norma agama, seperti meminum minuman keras dan berpacaran.
j.        Bersikap hormat kepada Orang tua dan Orang lain
Hampir semmua siswa menunjukkan sikap respek terhadap orang tua atau orang lain. Meskipun begitu di antara mereka masih ada yang tidak konsisten dalam bersikap hormatnya kepada orang tua, seperti suka membohonginya dan merasa tidak perlu memerhatikan nasihatnya.
k.      Bersabar dan bersyukur
Sebagian besar siswa merasa sulit untuk bersabar pada saat mendapat musibah, bahkan di antara mereka sangat kecewa terhadap  nasib yang dialaminya. Adapunmengenai bersyukur kepada Allah, hampir setengahnya merasa lupa untuk bersyukur kepada-Nya pada saat mendapat nikmat.

Sumber :
Syamsu Yusuf  L.N dan Nani M. Sugandhi, Perkembangan Peserta Didik

0 komentar:

Post a Comment