.

.

Pages

KURIKULUM : DIPANDANG DARI DIMENSI TEORI


          

Tujuan :
1.      Mendefinisikan kurikulum
2.      Mendefinisikan pengajaran (instruction)
3.      Menjelaskan bagaimana kurikulum diterapkan sebagai ilmu
4.      Membuat atau memilh salah satu model hubungan antara kurikulum dan pengajaran (instruction) dan menjelaskannya

A.    Konsep kurikulum
Gaius Julius Caesar dan pasukannya pada abad pertama tak pernah menyangka bahwa rute oval yang dilewati oleh kereta kuda Romawi akan mewariskan sebuah kata yang 21 abad kemudian digunakan hampir setiap hari oleh para pendidik. Rute itu – kurikulum itu – menjadi salah satu kunci utama dari persekolahan masa kini, dan perluasan dari kurikulum itu berasal dari tempat pacuan kuda yang kemudian menjadi konsep abstrak.
Dalam dunia pendidikan profesional, kata “kurikulum” merupakan kata yang tidak mudah dipahami, hampir merupakan konotasi yang tidak dimengerti. Kata ini adalah kata netral yang memiliki aura misterius. Sangat bertentangan dengan dimensi lain dalam dunia pendidikan seperti administrasi, pengajaran, dan pengawasan yang bermakna kuat, kata yang berorientasi tindakan. Administrasi adalah tindakan keadministasian, pengajaran adalah tindakan pengajaran, dan pengawasan adalah tindakan pengawasan. Kemudian bagaimana kurikulum bertindak? Sementara administrator mengadministasi, pengajar mengajarkan, dan pengawas mengawasi, tetapi tidak ada orang di sekolah yang mengkurikulumkan, dan ini aneh sebagai individual yang berperan sebagai pengkurikulum.
Pernyataan tentang pengertian kurikulum ini bergantung dari pengajarnya. Dwayne Huebner menganggap kurikulum sebagai kata yang memiliki banyak arti dan memiliki banyak persepsi. Elizabeth Vallance memaparkan, bahwa bidang kurikulum tidak jelas artinya, sebagai ilmu pengetahuan atau sebagai bidang praktek, kurikulum memiliki banyak cakupan. Kurikulum dapat diibaratkan seperti orang buta yang menjelaskan gajah dengan menyentuhnya. Definisi gajah menurut masing-masing orang buta ini tergantung dari apa yang dia sentuh. Ada yang bilang gajah itu panjang bulat ketika yang disentuh belalainya. Ada yang bilang gajah itu lebar seperti “tampah” saat yang dipegang telinganya. Ada yang bilang gajah itu kecil panjang saat yang dipegang ekornya.
Meskipun ditolak oleh beberapa kalangan bahwa pengertian kurikulum tidak jelas, tetapi tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti tentang kurikulum. Ada ahli yang menyatakan bahwa rencana yang ditulis disebut kurikulum. Beberapa ahli berpendapat bahwa di setiap sekolah dengan guru yang mengajar, maka disana pasti ada kurikulum. Olivia menyatakan menulis, kurikulum adalah rencana yang menyediakan petunjuk hal-hal yang pasti dilakukan. Tetapi jika karena keadaan tertentu pengamat meninggalkan sekolah pada sesi tertentu dan melakukan cros-chek dengan seksi lain tentang kondisi ketika ia pergi, maka tidak ada kejelasan pada kurikulum. Apa yang kemudian pengamat persepsikan mungkin dalam interaksi pandangan guru disebut dengan pengajaran.
Pencarian akan keberadaan kurikulum tidak seperti ketika mencari jejak Bigfoot, Yeti, Sasquatch, Bessie pantai selatan, atau si monster Loch Ness. Bigfoot, Sasquatch dan Yeti meninggalkan jejak mereka di lumpur dan salju; Bessie dan Nessie meninggalkan riak gelombang air di danau mereka, meski tak satu orangpun yang berhasil memfoto mereka. Seperti tak satu orangpun yang berhasil memfoto kurikulum. Sebagai gantinya Shutterbugs berhasil mengabadikan siswa, guru dan beberapa personel sekolah. Mungkin jika seseorang memotret contoh setiap tindakan yang terjadi di setiap kelas, koridor, kantor dan ruang tata usaha setiap harinya dan kemudian menginvestigasi potret ini seperti cara seorang pemimpin pasukan tentara menganalisis foto, mungkin kemudian bisa di gambarkan apa itu kurikulum.
v  Sertifikasi dan kurikulum
Menyertifikasi peranan komponen kurikulum menjadi masalah dalam mendefinisikan kurikulum, karena sedikit dari para ahli yang dapat menyatakan itu sebagai kurikulum. Sedangkan bila semua ahli harus belajar secara khusus tentang satu tipe kurikulum, maka tetap tidak ada certifikat yang menyatakan ahli dibidang kurikulum. Para ahli dapat mengelurkan sertifikat administrasi, pembimbing, pengawas, psikilogi sekolah, pengembangan pendidikan, dan banyak bidang pendidikan lainnya. Tetapi tidak dengan kurikulum? Tidak ada aturan, meskipun pembelajaran dibidang kurikulum ini diarahkan untuk disertifikasikan sebagai satu bidang spesialisasi, seperti administasi dan pengawas.
Tak pernah dinyatakan berapa jumlah penggarap kurikulum, konsultan, coordinator dan professor di bidang kurikulum yang dapat diidentifikasi. Spesialisasi ini, meski mereka mungkin ahli pada satu bidang tertentu atau lebih, tetapi tidak ada satu sertifikatpun yang ditandatangani sebagai ahli dibidang kurikulum.
Kurikulum adalah tentang pengembangan, perencanaan, pendesainan dan pembangunan. Kurikulum tidak dapat didefiniskan secara gamblang seperti ketika kita mendefinisikan apa itu penjahit.

v  Pemahaman kurikulum
Pengertian kata kurikulum diartikan dalam banyak pandangan. Tergantung dari falsafat yang diyakini, beberapa orang menyatakan pandangannya diantaranya adalah :
·         Kurikulum adalah apa yang diajarkan di sekolah
·         Kurikulum adalah penjelas subjek
·         Kurikulum adalah isi
·         Kurikulum adalah program studi
·         Kurikulum adalah satuan materi
·         Kurikulum adalah rangkaian pembelajaran
·         Kurikulum adalah satu kesatuan tampilan objek
·         Kurikulum adalah ilmu pembelajaran
·         Kurikulum adalah semua yang ada di sekolah, termasuk aktivitas extrakulikuler, bimbingan, dan hubungan antara personal
·         Kurikulum adalah apa yang diajarkan di dalam dan di luar sekolah
·         Kurikulum adalah semua hal yang direncanakan oleh anggota sekolah
·         Kurikulum adalah seri pengalaman yang diberikan melalui pembelajaran di sekolah
·         Kurikulum adalah pengalaman yang diperoleh setiap individu sebagai hasil dari persekolahan.
Pada definisi ini bisa dilihat bahwa kurikulum dapat diartikan secara khusus (sebagai subjek pembelajaran) atau secara umum (sebagai pengalaman pembelajaran, di dalam dan di luar sekolah, yang diajarkan di sekolah). Implikasi bagi sekolah yang menggunakan konsep kurikulum yang berbeda sangat bervariasi. Sekolah yang menerima kurikulum sebagai penjelas subjek akan lebih mudah ditanggani dari pada sekolah yang menerapkan kurikulum sebagai pengalaman yang diperoleh siswa baik di dalam maupun di luar sekolah.
Pandangan ahli pendidikan mengartikan kurikulum sangat bervariasi nuansanya. Definisi pertama, misalnya yang diungkpakan oleh Carter V. Good’s Dictionary of education menjelaskan kurikulum sebagai kelompok sistematik dari pembelajaran atau rangkaian subjek yang memerlukan penggolongan dan sertifikat dalam bidang studi tertentu, misalnya kurikulum ilmu sosial, kurikulum pendidikan psikologi.
Hollis L. Caswell dan Doak S. Campbell melihat kurikulum bukan sebagai kelompok pembelaaran tetapi sebagai “semua pengalaman yang diperoleh selama pembimbingan dengan guru”. J. Galen Saylor, William M. Alexander, dan Arthur J. Lewis menyatakan: “kami mendefinisikan kurikulum sebagai rencana yang menyediakan satu kesatuan kesempatan pembelajaran untuk setiap siswa untuk belajar”.
Saylor, Alexander dan Lewis memiliki definisi yang sejajar dengan Hilda Taba dalam sebuah diskusi tentang criteria pengembangan kurikulum: “kurikulum adalah rencana pembelajaran”. Dia mendefiniskan kurikulum berdasarkan daftar elemen berikut:
“All curricula, no matter what their particular design, are composed of certain elements. A curriculum usually contains a statement of aims dan of specific objectives; it indicates some selection and organization of content; it either implies or manifests certain patterns of learning and teaching, whether because the objectives demand them or because the content organization requires them. Finally, it includes a program of evaluation of the outcomes.”
Semua kurikulum, apapun desain khususnya, terdiri dari beberapa elemen tertentu. Kurikulum biasanya tediri dari pernyataan yang memiliki tujuan tertentu dan objek spesifik; ini mengindikasikan beberapa pilihan dan organisasi isi; ini merupakan salah satu implikasi atau dampak tertentu terhadap bentuk pembelajaran dan pengajaran, apakah ini disebabkan karena tuntutan objek mereka atau karena isi organisasi yang meminta mereka. Akhirnya, kurikulum termasuk program evaluasi untuk hasil yang dicapai.
Ronald C. Doll mendefinisikan kurikulum sekolah sebagai:
“The formal and informal content and process by which learners gain knowledge and understanding, develop skills, and alter attitudes, appreciation, and values under the auspices of that school.”
Kegiatan formal atau nonformal dan proses siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan memahami, mengembangkan ketrampilan, dan kemampuan lainnya, menghargai dan memiliki nilai kemanusiaan dengan bimbingan sekolah.
Daniel Tanner dan Laurel N. Tanner menyatakan definisi berikut:
“The author regard curriculum as that reconstruction of knowledge and experience systematicall developed under the auspices of the school (or university), to enable the learner to increase his or her control of knowledge and experience.”
Penulis mengartikan kurikulum sebagai rekonstruksi pengetahuan dan pengambangan pengalaman sistematik dibawah bimbingan sekolah (atau universitas), untuk memungkinkan siswa menambah pengetahuan dan pengalamannya.
Albert I. Oliver menyamakan kurikulum dengan program pendidikan dan membaginya ke dalam 4 komponen dasar: (1) program studi, (2) program pengalaman, (3) program layanan, (4) kurikulum tersembunyi.
Program studi, pengalaman dan pelayanan jelas sudah tersedia. Pada elemen ini Oliver menambahkan kurikulum tersembunyi, yang meliputi nilai-nilai yang ditawarkan oleh sekolah, perbedaan tekanan yang diberikan oleh guru yang berbeda dengan jumlah subjek yang sama, perbedaan semangat guru, dan suasana dan iklim sosial sekolah.
Definisi kurikulum, menurut Beane dkk (1986), yakni bahwa konsep kurikulum dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis pengertian yang meliputi: (1) kurikulum sebagai produk; (2) kurikulum sebagai program; (3) kurikulum sebagai hasil yang diinginkan: dan (4) kurikulum sebagai pengalaman belajar bagi peserta didik.
Kurikulum sebagai produk merupakan hasil perencanaan, pengembangan, dan perekayasaan kurikulum. Pengertian ini memiliki keuntungan berupa kemungkinan yang dapat dilakukan terkait dengan arah dan tujuan pendidikan secara lebih konkret dalam sebuah dokumen yang untuk selanjutnya diberi label kurikulum. Oleh karena itu, kurikulum dalam arti produk merupakan hasil yang konkret yang dapat diamati dalam bentuk dokumen hasil kerja sebuah tim pengembang kurikulum.
Perlu diingat bahwa definisi tersebut memiliki kelemahan yakni adanya pemaknaan yang sempit terhadap kurikulum. Dalam hal ini kurikulum hanya dipandang sebagai dokumen yang memuat serentetan daftar pokok bahasan materi dari suatu mata pelajaran.
Kurikulum sebagai program secara esensial merupakan kurikulum yang berbentuk program-program pembelajaran secara riil. Dalam bentuk yang ekstrem, kurikulum sebagai program dapat termanifestasikan dalam serentetan daftar pelajaran ataupun pokok bahasan yang diajarkan pada kurun waktu tertentu seperti halnya dalam kurun waktu satu semester. Elaborasi atas interpretasi yang lebih luas dari definisi tersebut dapat mencakupi aspek-aspek akademik yang kemungkinan perlu dimiliki oleh sekolah dalam kerangka kegiatan pembelajaran suatu kajian ilmu tertentu.
Sementara keuntungan dalam pandang tersebut yaitu ; (1) dengan cepat dapat menunjukkan dan menjelaskan apa yang dimaksud kurikulum dengan lebih konkret, (2) dapat memahami bahwa kegiatan pembelajaran dapat terjadi dalam setting yang berbeda pada jenjang yang berbeda. Sedangkan kelemahannya adalah munculnya asumsi bahwa apa yang tampak dalam daftar pokok bahasan, itulah yang harus dipelajari oleh siswa.
Pandangan kurikulum sebagai hasil belajar yang ingin dicapai oleh para siswa, mendeskripsikan kurikulum sebagai pengetahuan, keterampilan, perilaku, sikap dan berbagai bentuk pemahaman terhadap bidang studi. Walau pengertian ini lebih konseptual, namun hasil belajar yang diinginkan siswa juga sering dituangkan dalam bentuk dokumen seperti halnya tujuan belajar, seperangkat konsep yang harus dikuasai, prinsip-prinsip belajar dan sebagainya.
Keuntungan dari cara pandang seperti ini yakni ; (1) kurikulum menjadi sebuah konsep, yang selanjutnya dapat dikembangkan dan dielaborasikan oleh guru, siswa dan masyarakat, sehingga tidak sekadar produk semata yang secara ritual harus diajarkan sebagaimana adanya tanpa mempertimbangkan konteks sosial dan kultural baik di sekolah maupun di masyarakat, dan (2) dapat menyusun kurikulum menjadi lebih manageable baik dari segi scope maupun sequen-nya. Adapun kelemahannya adalah adanya kesulitan bagi para guru maupun sekolah dalam menangani secara terpisah apa yang harus dipelajari oleh siswa dan cara mempelajarinya.
Untuk yang terakhir yang memberikan pemaknaan kurikulum sebagai pengalaman belajar, pada hakikatnya merupakan pemisahan yang sangat jelas dari tiga pemaknaan sebelumnya. Sebagai konsekuensinya apa yang direncanakan dalam kurikulum belum tentu berhasil sebagaimana yang diharapkan. Hal ini tentu banyak faktor yang memengaruhinya seperti halnya kemampuan guru dalam menerapkan dan mengembangkan kurikulum dalam proses pembelajaran. Artinya sebaik apa pun kurikulumnya bila tidak didukung oleh guru yang profesional tentu tidak banyak memberikan makna terhadap siswa, demikian pula sebaliknya.
Keuntungan dari pemaknaan tersebut setidaknya ada dua hal yaitu: (1) pihak guru maupun sekolah lebih memusatkan perhatiannya pada siswa dalam proses pembelajaran, (2) guru akan lebih melibatkan semua pengalaman siswa. Walau demikian ada pula kelemahannya yaitu: (1) kurikulum terasa lebih abstrak dan kompleks jika dibandingkan dengan pemahaman yang sebelumnya, dan (2) kurikulum menjadi sangat komprehensif, sehingga tidak dapat dideskripsikan dalam bentuk yang sederhana. Sebagai konsekuensinya muncul terminologi mengenai kurikulum eksplisit (tertulis) dan implisit (tidak tertulis) atau kurikulum tersembunyi (hidden curriculum)
Pernyataan berbeda tentang definisi kurikulum disampaikan oleh Robert M. Gagne, sebagai satu satuan subjek (isi),  pernyataan penutup (akhir objek),  isi tertentu, dan pretest ketrampilan awal siswa sebelum mulai mempelajari materi. Mauritz Johnson, Jr., memiliki dasar yang sama dengan Gagne untuk definisi kurikulum sebagai “ hasil sistem pengembangan kurikulum dan sebagai input dalam sistem pengajaran”
Geneva Gay, menulis ketidaksependapatannya tentang kurikulum, ia menginterpretasikan kurikulum:
“If we are to achieve equality, we must broaden aour conceptions of currik\culum to include the entire culture of the school – not just subject matter contetnt.”
Jika kita memiliki kualitas yang bagus, kita harus memperluas konsep kita tentang kurikulum termasuk mempertimbangkan kebudayaan dari masing-masing sekolah – tidak hanya mengenai subjek.    
Beberapa definisi kurikulum dalam dunia pendidikan kita, antara lain:
1.      Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional);
2.      Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi (Pasal 1 Butir 6 Kepmendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa);
3.      Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out7comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai;
4.      Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
Beberapa definisi kurikulum di atas diharapkan saling melengkapi, sehingga pemahaman tentang kurikulum menjadi semakin utuh, dan dapat dihindari kekeliruan yang mungkin muncul dalam penyusunan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum suatu program studi. Pada dasarnya kurikulum memuat tentang apa yang harus diketahui mahasiswa dan bagaimana cara mahasiswa memperolehnya. Kurikulum dikemas dalam bentuk yang mudah dikomunikasikan kepada para pihak yang berkepentingan (stakeholders) di dalam institusi pendidikan, akuntabel, dan mudah diaplikasikan dalam praktik.                                                                                                                                                           
v  Definisi kurikulum berdasarkan tujuan, isi dan strategi
Perbedaan pengertian dari kurikulum yang dibeirkan bukan sebagai lanjutan dari pengertian sebelumnya atau sebagai pembeda bagaimana kurikulum digambarkan. Beberapa teori berkolaborasi dengan teori lainnya. Beberapa mengkombinasikan kurikulum dengan pengajaran, konsep permasalahan yang akan dijelaskan pada bab ini. Beberapa ahli mendefinisikan kurikulum dalam (1) tujuan kurikulum, (2) konteks apa yang akan dibahas dalam kurikulum, (3) strategi yang digunakan kurikulum.
Tujuan. Pencarian pengertian kurikulum meliputi saat respon teori diterima bukan pada tentang apa isi kurikulum itu, tetapi tentang apa itu kurikulum atau apa yang harus dilakukan pada kurikulum- inilah tujuannya. Tentang tujuan kurikulum kita dapat menemukan berbagai macam pernyataan.
Saat kurikulum dikonsepkan sebagai “pengembangan berpikir reflektif sebagai bagian dari siswa” atau sebagai “pewarisan kebudayaan”, tujuan merupakan hal yang membingungkan. Beberapa konsep berikut mungkin mendekati kebenaran: “Tujuan kurikulum adalah pewarisan kebudayaan”, atau “Tujuan kurikulum adalah pengembangan berpikir reflektif sebagai bagian dari siswa”. Pernyataan apa itu kurikulum memiliki sedikit arti yang dapat membantu kita membentuk definisi apa itu kurikulum.
Konteks. Terkadang pengertian kurikulum membentuk setting bagaimana ia diwujudkan. Ketika ahli teori mengatakan tentang pokok-pokok kurikulum, kurikulum berbasis siswa, atau rekonstruksi kurikulum, mereka menyatakan dua karakteristik kurikulum dalam satu waktu-tujuan dan konteks (isi). Misalnya, pada sekolah remaja dalam mengenalkan disiplin, dan menyiapkan putra putrinya menghadapi masa depan. Kurikulum ini muncul dari konteks filosopi khusus, tentang filosopi pokok sekolah.
Kurikulum berbasis siswa dengan jelas membalik orientasi – pada siswa, yang pada awalnya focus pada peningkatan sekolah. Pengembangan siswa secara individual dalam semua aspek perkembangan mungkin diputuskan tetapi rencana untuk mengembangkan banyak hal dari sekolah ke sekolah. Kurikulum sekolah mengikuti pengetahuan falsafat rekonstruksi bertujuan untuk pendidikan remaja dalam banyak hal dimana mereka akan lebih mampu memecahakan beberapa masalah sosial dan menjadikan hubungan sosial yang lebih baik.
Strategi. Meskipun tujuan dan konteks terkadang disampaikan sebagai definisi dari kurikulum, kekomplekannya bertambah ketika teoritikus menggabungkan kurikulum dengan startegi pengajaran. Beberapa teoritikus memisahkan variable pengajaran seperti proses, strategi, dan teknik dan kemudian menggabungkannya dengan kurikulum. Kurikulum sebagai ilustrasi proses pemecahan masalah dicoba untuk didefinisikan dalam proses pelaksanaan pengajaran – teknik pemecahan masalah, metode ilmiah, atau berpikir reflektif. Kurikulum sebagai kelompok kehidupan, misalnya, adalah usaha untuk membangun pengertian berdasarkan teknik pengajaran yang kemudian digunakan untuk menyediakan kesempatan untuk kelompok kehidupan. Kurikulum sebagai pembeda pembelajaran, dan kurikulum sebagai program pengajaran, faktanya, system spesifikasi ini terjadi secara tidak sengaja oleh siswa melalui proses pengajaran. Meskipun tujuan, konteks, atupun strategi tidak menyediakan secara jelas dasar untuk mendefinisikan kurikulum.
Dalam sebuah kelas dengan sendirinya telah dijelaskan arti kurikulum sebagai tujuan akhir atau terminal objektif. W. James Popham dan Eva L. Baker mengklasifikasikan kurikulum sebagai tujuan dan pengajaran sebagai alat ketika dikatakan: “Kurikulum adalah semua hasil rencana pembelajaran dengan sekolah sebagai penanggungjawabnya”. Dalam perencanaan kurikulum, perencana membuat rencana sebagai hasil atau sasaran hasil dalam pelaksanaan atau waktu pelaksanaan.
Melaksanakan atau tujuan bertindak adalah tujuan pengajaran. Berdasarkan pendukung tujuan tindakan, kompilasi dari semua tujuan tindakan dalam semua program dan kegiatan sekolah akan sesuai dengan kurikulum. Kurikulum merupakan penjumlahan dari semua tujuan pengajaran.
Antara tujuan kurikulum dan sasaran kurikulum dengan tujuan pengajaran dan sasaran pengajaran dibedakan pada waktu pelaksanaan. Pembelaan terhadap sasaran tindakan terlihat lebih nyaman dengan pendapat sebagai terminal objek (penutup) menjadi lebih spesifik, kurikulum bertindak sebaliknya. Pengambilalihan point dari pengajaran. Melihat kurikulum secara spesifik sebagai sasaran adalah sangat berbeda, misalnya, dari segi kurikulum sebagai rencana, program, atau pembelajaran tertentu.
Dalam text ini kurikulum diartikan sebagai rencana atau program untuk semua pengalaman yang diperoleh siswa secara langsung di sekolah. Dalam prakteknya, kurikulum konsisten pada urutan rencana, dalam bentuk catatan dan dalam berbagai cakupan, yang menggambarkan perlehan pengalaman belajar. Kurikulum, meskipun, mungkin dalam satu unit, satu pelatihan, pembelajran tertentu, program studi sekolah tertentu – dan mungkin dilakukan di luar kelas atau luar sekolah ketika mengarahkan oleh personal sekolah.
Kurikulum bersifat khas untuk suatu program studi, sebagaimana juga kekhasan tujuan pendidikan dan kompetensi lulusan dari suatu program studi tersebut. Kesadaran penuh atas kekhasan kompetensi lulusan masing-masing program studi, diharapkan membuat para lulusan dari berbagai program studi yang berbeda dapat saling melengkapi dan bekerja sama.
Kurikulum memuat 3 pokok pikiran, yaitu:
Apa yang dirancang untuk mahasiswa;
Apa yang diberikan kepada mahasiswa; dan
Pengalaman apa yang diperoleh mahasiswa.
Kurikulum juga mengandung 4 elemen pokok, yaitu:
Isi (content);
Strategi pembelajaran (teaching-learning strategies);
Proses penilaian (assessment processes), dan
Proses evaluasi (evaluation processess).

B.     Hubungan kurikulum dan instruction (petunjuk)
Penelitian untuk mengklarifikasi arti dari kurikulum menjelaskan tentang perbedaan antara kurikulum dengan pengajaran dan hubungan antara keduannya. Untuk praktisnya kurikulum dilihat sebagai apa yang diajarkan dan pembelajaran diartikan sebagai apa yang digunakan untuk mengajar. Untuk lebih sederhananya, kurikulum dapat dikatakan sebagai “apa” dan pengajaran sebagai “bagaimana”. Kita mungkin berpikir kurikulum sebagai program, rencana, konteks, dan pengalaman pembelajaran, dan kita mengklarifikasikan pengajaran sebagai metode, tindak pembelajaran, implementasi, dan presentasi.
Perbedaan pengajaran dari kurikulum, Johnson mendefinisikan pengajaranb sebagai “interkasi antara agen pengajaran dengan satu atau lebih individu yang belajar”. James B. Macdonals melihat aktivitas kurikulum sebagai pembuatan rencana untuk tindakan berikutnya dan pengajaran sebagai pelaksanaan rencana dalam pelaksanaannya. Menurut Macdonald, kurikulum merencanakan proses pengajaran.
Dalam merencanakan pembelajaran baik kurikulum maupun pengajaran, dibuat berdasarkan keputusan. Keputusan mengenai kurikulum bergantung pada rencana atau program dan ini disebut programatik, dan ketika ini tentang pengajaran (dan implementasinya) disebut dengan metodologi. Kurikulum dan pengajaran merupakan subsistem dalam sebuah system yang besar yang disebut persekolahan atau pendidikan.
v  Model hubungan kurikulum-pengajaran
Pengertian kurikulum dan pengajaran memiliki nilai yang sama tetapi dapat dijelaskan ketergantungan antara kedua subsistem ini. Mereka mungkin di kenalkan sebagai dua entitas, tetapi seperti si kembar Siamese, salah satunya tidak dapat berfungsi tanpa yang lainnya. ini merupakan hubungan antara “apa” dan “bagaimana” pendidikan tidak dapat dengan mudah diartikan sebagai model yang berbeda antara hubungan ini. Dalam banyak terminology, model yang dikenalkan antara lain: (1) model duliastik (dualistic model), (2) model ketergantungan (interlocking-model), (3) model terpusat (concentric-model), (4) model melingkar (cyclical model).
·         Model dualistic. Kurikulum berada di satu sisi dan pengajaran di sisi lainnya, dan mereka tidak akan pernah bertemu. Keduanya terpisah sebagai sebuah entitas. Apa ayang terjadi didalam kelas yang langsung diamati oleh guru memiliki hubungan yang kecil dengan apa yang perencanaaan katakana agar terjadi di kelas. Perencana mengabaikan guru/pengajar dan pada gilirannya diabikan oleh pengajar. Diskusi tentang kurikulum ditolak oleh mereka yang berperan langsung di kelas. Dengan model ini perubahan proses pada kurikulum atau pengajaran tidak akan berefek secara signifikan terhadap lainnya.








·         Model interlocking/model ketergantungan. Saat kurikulum dan pengajaran ditunjukkan sebagai system yang saling terlilit, maka inilah yang disebut dengan hubungan ketergantungan. Tidak ada posisi yang diberikan secara khusus antara kurikulum dan pengajaran  utnuk menggambarkan kedudukan keduanya seperti terlihat pada gambar 2. Hubungan yang terjadi memiliki arti yang sama tidak perduli elemen mana yang berada di kanan atau kiri. Model ini secara jelas mendemonstrasikan keterikatan hubungan antara kedua entitas. Pemisahan kedua elemen ini akan menimbulkan kerusakan pada yang serius pada dua elemen ini.
Perencana kurikulum akan kesulitan memahami pengajaran sebagai bagian penting kurikulum dan menjelaskan metode pembelajaran sebelum tujuan program ditentukan. Walaupun begitu, beberapa proses penguasaan sebagaimana jika pengajaran diutamakan dengan penundaan dan memajukan rencana pda kurikulum dan membiarkannya lebih atau kurang berkembang seperti terjadi di kelas.












·         Model concentric. Model terpusat. Model ini menggambarkan hubungan antara kurikulum dan pengajaran dengan gambaran variasi derajat ketergantungan mulai dari pemisahan komplek ke hubungan ketergantungan. Ketergantungan yang saling menguntungkan ini adalah kunci dari model terpusat. Dua konsep dari hubungan kurikulum dan pengajaran ditunjukkan sebagai satu system seperti digambarkan dalam gambar 3. Variasi A dan B membawa ide bahwa salah satu entitas sebagai superordinat dan lainnya berada di posisi subordinat.
Model terpusat A menjadi pengajaran sebagai subsistem dari kurikulum, dan pengajaran sendiri sebagai subsistem dari system pendidikan. Model terpusat B menjadikan kurikulum sebagai subsistem dari pengajaran. Hubungan hirarki ini berada dari kedua model ini. Tingkatan kurikulum berada dibawah pengajaran pada model A, dam pengajaran lebih dominan di model B. dalam model A pengajaran sangat berntung pada variasi jumlah kurikulum. Model B menjadikan kurikulum sebagai acuan dan berasal dari pengajaran yang lebih global.
 ·         Model cyclical. Konsep hubungan melingkar antara kurikulum – pengajaran adalah system model yang sangat sederhana dengan penekanan pada elemen esensial sebagai timbale baliknya. Kurikulum dan pengajaran merupakan dua bagian terpisah yang dihubungan secara melingkar. Kurikulum berdampak secara langsung terhadap pengajaran, dan sebaliknya., pengajaran berdampak pada kurikulum. Hubungan ini secara sistematik dapat digambarkan seperti pada gambar 4. Model melingkar ini menunjukkan  bahwa keputusan pengajaran dibuat seteah kurikulum dibuat, dengan urutan modifikasi setelah keputusan pengajaran dilaksanakan dan dievaluasi. Proses ini berkelanjutan, berulang dan tidak pernah berhenti. Prosedur evaluasi pengajaran berefek pada rangkaian keputusan kurikulum yang dibuat berikutnya, yang berdampak pada pelaksanaan pengajaran berikutnya, ketika kurikulum dan pengajaran digambarkan sebagai bagian yang terpisah, dengan model ini kurikulum dan pengajaran tidak berdiri sendiri tetapi menjadi bagian dari sebuah lingkaran – sebuah lingkaran yang terus berputar, menyebabkan adaptasi berkelanjutan dan perbaikan bagi kedua bagian.




·         Pengetahuan umum. Konsep yang “benar” dan “salah” tentang kurikulum dan pengajaran tidak bias hanya dilimpahkan pada satu individu pendidik maupun pada kelompok pendidik. Satu indek yang sesuai mungkin dapat memberikan pilihan bagi sebagian besar pendidik di pangguang sejarah tertentu. Lebih pragmatic tetapi meskipun demikian kedudukannya dapat dilewati dan dipertahankan, meski tak satupun pengetahuan saya yang dapat membuat perhitungan untuk mempertahankan kemenangan sehubungan dengan kurikulum dan pengajaran, sebagain besar teoritikus sependpaat dengan beberapa pernyataan berikut:
Ø  Kurikulum dna pengajaran saling berhubungan meski merupakan sesuatu yang berbeda
Ø  Kurikulum dan pengajaran memiliki keterikatan dan ketergantungan
Ø  Kurikulum dan pengajaran mungkin dipelajari dan dianalisis secara terpisah tetapi tidak dapat berfungsi secara sendiri-sendiri.
Beberapa penggarap kurikulum merasa nyaman dengan model interlocking karena model ini menunjukkan dekatnya hubungan antara kedua hal ini. Dari semua model hubungan kurikulum-pengajaran yang ada berseberangan dengan pendapat saya, meskipun begitu, model cyclical lebih direkomendasikan karena kesederhanaannya dan pada tekanan yang dibutuhkan untuk mempengaruhi keberlanjutan masing-masing pihak – kurikulum dan pengajaran.
C.    Kurikulum sebagai cabang ilmu pengetahuan
Meskipun sukar dicari karakternya, kurikulum banyak dipandang sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan-sebagai subjek studi-dan oleh pendidik yang bergelar lebih tinggi dipandang sebagai sebuah bidang studi. Kurikulum merupakan dua bidang dengan orang sebagai pekerjannya dan sebagai subjek untuk dijarkan. Siswa lulusan (untuk beberapa perluasannya) dan yang belum lulus memilih pembelajaran tentang pengembangan kurikulum, teori kurikulum, evaluasi kurikulum, kurikulum sekolah kelas kedua, kurikulum sekolah dasar, kurikulum sekolah menengah, comunitas perkuliah kurikulum, dan yang jarang ada, universitas kurikulum.
D.    Karakteristik ilmu
Untuk sampai pada keputusan dianggap sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan, pertanyaan yang dilontarkan mungkin “Apa karakteristik sebuah cabang ilmu pengetahuan?” jika karakteristik ilmu pengetahuan dapat disebutkan, kita mungkin dapat menjelaskan tentang kurikulum, apakah ia sebuah ilmu pengtehuan atau bukan.
Prinsip. Setiap ilmu pengetahuan yang pantas untuk dipelajari tersusun dari teori pembangun atau prinsip yang mempengaruhinya. Kurikulum itu sendiri dibangun atau dikonsep, berdasarkan pernyataan komplek tentang sebuah pendapat atau beberapa pendapat. Menggunakan konstruksi keseimbangan dan kurikulum, kita dapat menjalankannya sebagai sebuah prinsip atau sebagai aturan, dinyatakan dalam waktu yang singkat, dikatkaan “sebuah kurikulum menyediakan kesempatan yang maksimal bagi siswa untuk bekerjasama dalam konsep keseimbangan”. Rangkaian pembelajaran, pendidikan karir, pendidikan di temapat terbuka, tujuan tindkaan, dan sistem yang tersedia pembelajaran membaca, adalah contoh pengembangan kerjasama dalam satu prinsip kurikulum atau lebih.
Karakteristik utama dari teori prinsip ini adalah kapasistas yang dapat digeneralisasikan dan diterapkan dalam lebih dari satu situasi. Teori tentang kurikulum tetapi satu solusi masalah spesifik, itu akan sulit mempertahankan konsep kurikulum sebagai ilmu pengetahuan. Tetapi prinsip teori kurikulum hampir selalu berhasil mengikuti aturan yang kemudian dapat diulang kembali dalam situasi yang sama dan situasi yang mendekati sama. Banyak orang akan setuju, misalnya, setiap konsep keseimbangan digabungkan dengan setiap kurikulum.kita akan mendapat banyak kontroversi, meskipun setiap prinsip akan dinyatakan sebagai “Langkah pertama dalam perencanaan kurikulum adalah spesifikasi tujuan tindakan”.beberapa inti prinsip ini menjadi tindakan umum dan mungkin berlabel “benar”, ini harus dicoba dan diterima banyak sekolah, menolak beberapa, kemudian mencoba dan mencampakkan lainnya.
Pengetahuan dan ketrampilan. Setiap ilmu pengetahuan terdiri dari pengetahuan dan ketrampilan sebagai bagian dari cabang ilmu pengetahuan. Bidang kurikulum diadaptasi dan dipinjam dari beberapa subjek murni dan cabang ilmu terapan. Gambar 5 menggambarkan skema area bahwa bidang kurikulum meminjam konstruksi, prinsip, pengetahuan dan ketrampilan. Pemilihan isi pembelajaran dilakukan oleh siswa, misalnya, tidak dapat dilakukan tanpa melalui cabang ilmu pengetahuan sosial, psikologi, dan area subjek. Struktur kurikulum bergantung pada pengetahuan untuk menyusun teaori dan memanajemninya, sebagai aspek administrasi. Bidang pengawasan, teori sistem, yeknologi, dan teori komunikasi disebut sebagai proses pengembangan kurikulum. Pengetahuan dari berbagai bidang dipilih dan diadaptasi oleh bidang kurikulum.
Kurikulum berpusat pada siswa sebagai sebuah gambaran konsep yang dimiliki untuk mengetahui tentang pembelajaran, pertumbuhan, dan pengembangan (psikologi dan biologi), dalam falsafah (sebagai bagian dari sekolah filsafat, memajukan), dan dalam sosiologi. Elemen penting dari kurikulum dipnjam dari area subjek pada ilmu filsafat, ilmu psikologi dan ilmu sosial.
Kita mungkin bertanya apa konstribusi bidang kurikulum bagi pengetahuan jika ia merupakan pinjaman dari ilmu pengetahuan lain. Tentu saja, persetujuan antara pemikiran dan penelitian adalah dengan menamakannya kurikulum. Ide baru kurikulum mulai dihasilkan secara berkelanjutan. Ide-ide tentang pembelajaran kooperatif, video interaktif, atau pendidikan lingkungan hidup (untuk menyebutkan tiga konsep secara adil), meminjamnya dari ilmu pengetahuan lain.

 Menggunakan ketrampilan sebagai pelaksana khusus kurikulum juga meminjam dari bidang lain. Mengambil contoh dari bidag psikologi sosial. perubahan yang terjadi pada kurikulum dapat diterima hanya ketika orang melakukan perubahan. Pada prinsip ini digambarkan berasal dari bidang psikologi sosial dan diterapkan pada bidang pengembangan kurikuluim, yang secara dramatikal ditunjukkan oleh penghubungan penelitian Wester Electric di industri pada tahun 1930-an. Disana peneliti menemukan bahwa pekerja pabrik yang merakit telepon lebih produktif daripada mereka yang menjadi konsultasn dan membuat penilaian bagi organisasi. Membuat pekerja merasa penting berhasil menaikkan produktivitas daripada memanipulasi lingkungan kerja, misalnya, penerangan di pabrik. Perasaan menjadi bagian dari studi penelitian juga menciptakan situasi ini, disebut efek Hawthorne, nama dari perusahaan Wester Electric Hawthorne di Chicago. Memiliki perasaan dilibatkan berkontribusi meningkatkan produktivitas, untuk itu dapat dibuat hipotesis atau penyebab nyta untuk perubahan. Meskipun begitu, praktisi pendidikan yang menyadai efek Hawthorne mungkin mengambil keuntungan dengan menggunakannya dalam pembelajaran.
Kritik dibuat untuk penelitian Western Electric. Pada bagian kriti, meskipun tetap ditemukan beberapa suara umum. Seorang pemimpin pengajaran – sebut ia pengawas-seorang yang bertindak sebagai penyampai atau agen yang membawa perubahan pada orang. Apa yang dilakukan pengawa? Pengawas membuat pengetahuan dan ketrampilan lebih banyak digunakan dalam beberapa bidang: teori komunikasi, kelompok psikolog, dan area lainnya. Bagaimana pengawas membantu guru menerapkan perubahan yang terjadi? Mereka menerapkan prinsip dan memanajemen ketrampilan, dari beberapa struktur cabang ilmu pengetahuan dan beberapa area lainnya.
Konsekuensinya, kita dapat mengakhiri permintaan penggunaan bidang kurikulum sebagai gabungan dari pengetahuan dan ketrampilan dari beberapa ilmu pengetahuan. Teori dan praktek kurikulum diperoleh dari ilmu pengetahuan lain dengan tidak mengurangi kepentiangan bidang tersebut. Hasil observasi diperoleh karakteristik dasar yang sederhana. Perpaduan elemen kurikulum dari banyak bidang dalam beberapa cara membuat keduanya diperlukan dan dipaparkan untuk bekerja.
Teoritikus dan praktisi. Sebuah cabang ilmu pengetahuan memiliki teoritikus dan praktisi. Umumnya, bidang kurikulum memiliki beberapa pekerja laboratorium sebagai sebutan. Beberapa sebutan yang biasanya digunakan untuk memanggil antara lain: perencana, konsultan, koordinator, direktur, dan profesor kurikulum. Kita dapat menyertakan mereka dibawah judul generis pekerja kurikulum atau spesialis kurikulum.
Spesialis kurikulum membuat beberapa konstribusi bidang mereka. Para spesialis tahu kurikulum tipe apa yang dikerjakan dimasa lalu, dalam kondisi apa, dan berhasil dibidang apa. Sejak nama permainan dikenalkan, spesialis
E.     Praktisi kurikulum
·         Spesialis kurikulum
Spesialis kurikulum membuat beberapa konstribusi unik dengan menciptakan perubahan teori dan pengetahuan menjadi praktek. Melalui usaha baru mereka, dalam percobaan pertama, keberhasilan menjadikan praktek dilaksanakan. Sebagai siswa cabang ilmu kurikulum, mereka hampir menguji dan menguji ulang teori dan pengetahuan dari bidang merka dan hubungan bidang itu. Kesadaran mereka akan keberhasilan masa lalu dan kegagalan lainnya membantu mereka membuat diagram hubungan untuk kurikulum mereka.
Spesialis kurikulum adalah jabatan terbaik untuk melakukan penelitian pada permasalahan kurikulum. Spesialis mengurus dan menangani permasalahan kurikulum, menggabungkan rencana dan prohgram, menghasilkan bentuk baru dari struktur kurikulum, sejarah uji coba kurikulum, sebagai indikasi tetapi sedikit dilakukan penelitian. Spesialis berani menggunakan hasil penelitian untuk terus menggabungkan penemuan baru kurikulum.
Ketika guru kelas setiap hari melibatkan diri mereka pada masalah kurikulum dan pengajaran, spesialis kurikulum dituntut menyediakan petunjuk untuk guru. Sejak terdapat banyak perbedaan tipe spesialisasi di banyak lokasi perbeda, kamu akan menemukan kesulitan untuk menggeneralisasi peraturan. Beberapa spesialis penggarap kurikulum seharusnya adalah:
-          Philosopher
-          Psychologist
-          Ahli sosial
-          pengawas
-          Hubungan masnusia berpengalaman
-          Teoritikus
-          Sejarawan
-          Ahli ilmu pengetahuan
-          Evaluator
-          Peneliti
-          Pengajar
-          Penganalisis sistem
·         Guru/pengajar
Sampai tahap ini diskusi masih berpusat pada spesialis kurikulum dan kedudukan mereka dalam skema bidang yang disebut kurikulum. Kita harusnya tidak hanya menekankan pada kelompok besar profesional – guru. Guru adalah penggarap kurikulum yang beraksi dalam perencanakan kurikulum dalam berbagai variasi sudut, variasi setting, dengan waktu berbeda, biasanya dibawah pimpinan spesialis, ada koordinator, pembimbing, pengawas, pemimpin team, kepala departemen atau asisten kepala. Bagaimana guru –pengajar dan spesialis kurikulum bekerja bekerja sama dalam dua bidang kurikulum dan pengajaran adalah tema yang akan terus dibahas dalam buku ini.
·         Pengawas
Supervisor di persepsikan sebagai orang yang bekerja di tiga kawasan: pengembangan pembelajaran, pengembangan kurikulum dan pengembangan guru. Ketika pengawas bekerja di kawasan pertama ia bertindak sebagai spesilis kurikulum. Penggarap kurikulum atau spesialis kurikulum merupakan bagian dari tipe pengawas, satu atau lebih diantaranya bertanggung jawab secara penuh sebagai pengawas. Spesialis kurikulum dan pengawas memiliki peran yang sama ketika mereka bekerja dengan guru dalam mengembangkan kurikulum dan pengembangkan pembelajaran, tetapi spesialis kurikulum tidak secara khusus mengorganisir program dan mengevaluasi guru, yang lebih bertanggung jawab dalam hal ini adalah pengawas atau administrator.
·         Variasi peranan
Dengan banyaknya pekerjaan di bidang pendidikan, muncul kesulitan dalam menggambarkan garis kepemimpinan yang diterapkan dlam berbagai kondisi dan situasi. Untuk lebih memahami peranan dan fungsi personel pendidikan, kita harus memeriksa pengalaman lokal. Guru, spesialis kurikulum, dan pengawas bertindak untuk memperbaiki kurikulum dan pengajaran. Satu waktu peranan mereka sama, tetapi diwaktu lain peranan mereka berbeda.kadang spesislis kurikulum adalah satu orang dan orang yang sama-guru yang bertindka sebagai spesialis kurikulum dan pengawas. Dan dilain waktu mereka dua orang yang berbeda-guru dan spesialis kurikulum/pengawas. Dan diwaktu lainnya mereka adalah tiga orang-guru, spesialis kurikulum dan pengawas. Kurikulum dan pengajaran adlah pikiran dan hati persekolahan, semua personal, dan komunitas sebagai partisipan dalam meningkatkan apa yang dibutuhkan sekolah dan bagaimana mengimplementasikannya.
F.     Posisi Kurikulum Dalam Pendidikan
Kurikulum memiliki posisi sentral dalam setiap upaya pendidikan Klein, 1989:15). Dalam pengertian kurikulum yang dikemukakan di atas harus diakui ada kesan bahwa kurikulum seolah-olah hanya dimiliki oleh lembaga pendidikan modern dan yang telah memiliki rencana tertulis. Sedangkan lembaga pendidikan yang tidak memiliki rencana tertulis dianggap tidak memiliki kurikulum. Pengertian di atas memang pengertian yang diberlakukan untuk semua unit pendidikan dan secara administratif kurikulum harus terekam secara tertulis.
Posisi sentral ini menunjukkan bahwa di setiap unit pendidikan kegiatan kependidikan yang utama adalah proses interaksi akademik antara peserta didik, pendidik, sumber dan lingkungan. Posisi sentral ini menunjukkan pula bahwa setiap interaksi akademik adalah jiwa dari pendidikan. Dapat dikatakan bahwa kegiatan pendidikan atau pengajaran pun tidak dapat dilakukan tanpa interaksi dan kurikulum adalah desain dari interaksi tersebut.
Dalam posisi maka kurikulum merupakan bentuk akuntabilitas lembaga pendidikan terhadap masyarakat. Setiap lembaga pendidikan, apakah lembaga pendidikan yang terbuka untuk setiap orang ataukah lembaga pendidikan khusus haruslah dapat  mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya terhadap masyarakat. Lembaga pendidikan tersebut harus dapat memberikan "academic accountability" dan "legal accountability" berupa kurikulum. Oleh karena itu jika ada yang ingin mengkaji dan mengetahui kegiatan akademik apa dan apa yang ingin dihasilkan oleh suatu lembaga pendidikan maka ia harus melihat dan mengkaji kurikulum. Jika seseorang ingin mengetahui apakah yang dihasilkan ataukah pengalaman belajar yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut tidak bertentangan dengan hukum maka ia harus mempelajari dan mengkaji kurikulum lembaga pendidikan tersebut.
Dalam pengertian "intrinsic" kependidikan maka kurikulum adalah jantung pendidikan Artinya, semua gerak kehidupan kependidikan yang dilakukan sekolah didasarkan pada apa yang direncanakan kurikulum. Kehidupan di sekolah adalah kehidupan yang dirancang berdasarkan apa yang diinginkan kurikulum. Pengembangan potensi peserta didik menjadi kualitas yang diharapkan adalah didasarkan pada kurikulum. Proses belajar yang dialami peserta didik di kelas, di sekolah, dan di luar sekolah dikembangkan berdasarkan apa yang direncanakan kurikulum. Kegiatan evaluasi untuk menentukan apakah kualitas yang diharapkan sudah dimiliki oleh peserta didik dilakukan berdasarkan rencana yang dicantumkan dalam kurikulum. Oleh karena itu kurikulum adalah dasar dan sekaligus pengontrol terhadap aktivitas pendidikan. Tanpa kurikulum yang jelas apalagi jika tidak ada kurikulum sama sekali maka kehidupan pendidikan di suatu lembaga menjadi tanpa arah dan tidak efektif dalam mengembangkan potensi peserta didik menjadi kualitas pribadi yang maksimal.
Untuk menegakkan akuntabilitasnya maka kurikulum tiak boleh hanya membatasi diri pada persoalan pendidikan dalam pandangan perenialisme atau esensialisme. Kedua pandangan ini hanya akan membatasi kurikulum, dan pendidikan, dalam kepeduliaannya. Kurikulum dan pendidikan melepaskan diri dari berbagai masalah social yang muncul, hidup, dan berkembang di masyarakat. Kurikulum menyebabkan sekolah menjadi lembaga menara gading yang tidak terjamah oleh keadaan masyarakat dan tidak berhubungan dengan masyarakat. Situasi seperti ini tidak dapat dipertahankan dan kurikulum harus memperhatikan tuntutan masyarakat dan rencana bangsa untuk kehidupan masa mendatang. Problema masyarakat harus dianggap sebagai tuntutan, menjadi kepeduliaan dan masalah kurikulum. Apakah kurikulum bersifat mengembangkan kualitas peserta didik yang diharapkan dapat memperbaiki masalah dan tatangan masyarakat ataukah kurikulum merupakan upaya pendidikan membangun masyarakat baru yang diinginkan bangsa menempatkan kurikulum pada posisi yang berbeda.  
Secara singkat, posisi kurikulum dapat disimpulkan menjadi tiga. Posisi pertama adalah kurikulum adalah "construct" yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan. Pengertian kurikulum berdasarkan pandangan filosofis perenialisme dan esensialisme sangat mendukung posisi pertama kurikulum ini. Kedua, adalah kurikulum berposisi sebagai jawaban untuk menyelesaikan berbagai masalah social yang berkenaan dengan pendidikan. Posisi ini dicerminkan oleh pengertian kurikulum yang didasarkan pada pandangan filosofi progresivisme. Posisi ketiga adalah kurikulum untuk membangun kehidupan masa depan dimana kehidupan masa lalu, masa sekarang, dan berbagai rencana pengembangan dan pembangunan bangsa dijadikan dasar untuk mengembangkan kehidupan masa depan.
Secara formal, tuntutan masyarakat terhadap pendidikan diterjemahkan dalam tujuan pendidikan nasional, tujuan pendidikan jenjang pendidikan dan tujuan pendidikan lembaga pendidikan. Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan besar pendidikan bangsa Indonesia yang diharapkan tercapai melalui pendidikan dasar. Apabila pendidikan dasar Indonesia adalah 9 tahun maka tujuan pendidikan nasional harus tercapai dalam masa pendidikan 9 tahun yang dialami seluruh bangsa Indonesia. Tujuan di atas pendidikan dasar tidak mungkin tercapai oleh setiap warganegara karena pendidikan tersebut, pendidikan menengah dan tinggi, tidak diikuti oleh setiap warga bangsa. Oleh karena itu kualitas yang dihasilkannya bukanlah kualitas yang harus dimiliki seluruh warga bangsa tetapi kualitas yang dimiliki hanya oleh sebagian dari warga bangsa.
Jenjang Pendidikan Dasar terdiri atas pendidikan Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) dan Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) atau program Paket A dan Paket B. Setiap lembaga pendidikan ini memiliki tujuan yang berbeda. SD/MI memiliki tujuan yang tidak sama dengan SMP/MTs baik dalam  pengertian ruang lingkup kualitas mau pun dalam pengertian jenjang kualitas.Oleh karena itu maka kurikulum untuk SD/MI berbeda dari kurikulum untuk SMP/MTs baik dalam pengertian dimensi kualitas mau pun dalam pengertian jenjang kualitas yang harus dikembangkan pada diri peserta didik.
Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat (3) menyatakan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
  1. peningkatan iman dan takwa;
  2. peningkatan akhlak mulia;
  3. peningkatan potensi,kecerdasan, dan minat peserta didik;
  4. keragaman potensi daerah dan lingkungan;
  5. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
  6. tuntutan dunia kerja;
  7. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
  8. agama;
  9. dinamika perkembangan global; dan
  10. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
Pasal ini jelas menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta didik yang menyeluruh dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu, kehidupan agama, ekonomi, budaya, seni, teknologi dan tantangan kehidupan global. Artinya, kurikulum haruslah memperhatikan permasalahan ini dengan serius dan menjawab permasalahan ini dengan menyesuaikan diri pada kualitas manusia yang diharapkan dihasilkan pada setiap jenjang pendidikan (pasal 36 ayat (2).  
Secara formal, tuntutan masyarakat terhadap pendidikan juga diterjemahkan dalam bentuk rencana pembangunan pemerintah. Rencana besar pemerintah untuk kehidupan bangsa di masa depan seperti transformasi dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, reformasi dari system pemerintahan sentralistis ke system pemerintahan disentralisasi, pengembangan berbagai kualitas bangsa seperti sikap dan tindakan demokratis, produktif, toleran, cinta damai, semangat kebangsaan tinggi, memiliki daya saing, memiliki kebiasaan membaca, sikap senang dan kemampuan mengembangkan ilmu, teknologi dan seni, hidup sehat dan fisik sehat, dan sebagainya. Tuntutan formal seperti ini harus dapat diterjemahkan menjadi tujuan setiap jenjang pendidikan, lembaga pendidikan, dan pada gilirannya menjadi tujuan kurikulum.
G.    Ringkasan
Kurikulum dan pengajaran merupakan satu kesatuan tetapi memiliki isi yang berdiri sendiri. Kurikulum didefinisikan dalam berbagai cara oleh teori. Text ini mengikuti konsep bahwa kurikulum adalah sebuah rencana atau program untuk melaksanakan pembelajaran dimana pembelajar berada di lingkungan sekolah.
Kurikulum merupakan “jalur pacu” atau “kendaraan” untuk mencapai tujuan pendidikan dan kompetensi lulusan dari suatu program studi. Untuk itu kompetensi yang dimiliki oleh lulusan dan kurikulum dari suatu program studi perlu dirumuskan sesuai dengan tujuan pendidikan dan tuntutan kompetensi lulusan, sehingga lulusan program studi tersebut memiliki keunggulan
komparatif di bidangnya.
Pengajaran diartikan sebagai alat untuk membuat kurikulum bekerja, teknik yang digunakan pengajar untuk menjadikan kurikulum tersedia bagi siswa. Secara singkatnya, kurikulum adalah petunjuk program pembelajaran dan pengajaran adalah metode pembelajaran.
Model hubungan antara kurikulum dan pengajaran telah didiskusikan sebelumnya. Masing-masing model memiliki kekuatan dan kelemahan. Perencanaan harusnya dilakukan dengan programatik-artinya, dengan berdasarkan keputusan kurikulum dam demham keputusan pengajaran.

Daftar Pustaka
Olivia, Peter F. (1992) Developing the Curiculum. New York: Harper Collins Publishers. http://dewanpendidikan.wordpress.com/2007/05/03/model-kurikulum-keunggulan-lokal/#comment-28

0 komentar:

Post a Comment