.

.

Pages

MENGEMBANGKAN INSTRUMEN PENILAIAN




 
A.     LATAR BELAKANG
            Tugas penilaian berbasis pembelajaran (Learning-centered assessment) diharapkan berfungsi pada peristiwa pembelajaran, dan pada model ini, siswa diupayakan agar berani melakukan penilaian diri demi mencapai pertanggungjawaban terhadap kualitas pembelajaran.
Definisi penilaian berbasis pelajar sama dengan definisi tradisional dari tes acuan patokan. Penilaian berbasis pelajar berfungsi sebagai acuan patokan (yaitu berhubungan dengan goal pembelajaran, tujuan penampilan eksplisit yang diturunkan dari goal). Hasil dari tes acuan patokan menunjukkan kepada guru bagaimana siswa mampu mencapai setiap objective/tujuan khusus pembelajaran, dan menunjukkan kepada desainer komponen pembelajaran mana yang berfungsi dengan baik, dan mana yang harus direvisi. Tes acuan patokan memungkinkan siswa merefleksikan penampilan mereka dengan cara mempraktikkan standart untuk menilai pekerjaan mereka. Refleksi ini membantu siswa untuk bertanggung jawab terhadap kualitas pembelajaran siswa tersebut.

Pada bab ini akan dibicarakan bagaimana desainer menyusun berbagai macam tipe instrument penilaian. Kita menggunakan ukuran assessment karena tes sering diartikan paper and pencil, ataupun tes pilihan ganda. Assessment/penilaian digunakan sebagai ukuran yang lebih luas yang menyangkut semua jenis aktivitas yang dapat digunakan untuk menilai siswa dalam mempraktikkan penguasaan keterampilan baru.

B.     KONSEP
Konsep utama dari bab ini adalah penilaian acuan patokan (criterion-referenced assessment). Penilaian acuan patokan disusun dari item-item atau tampilan tugas yang secara langsung mengukur keterampilan yang diuraikan dalam satu atau lebih tujuan penampilan. Ukuran patokan digunakan karena item penilaian disajikan sebagai dasar untuk menentukan kecukupan penampilan siswa sesuai dengan objective, yaitu kesuksesan penilaian ini menentukan bahwa siswa telah mencapai objective/tujuan khusus dalam satuan pembelajaran. Item penilaian diambil langsung dari penampilan yang dijelaskan dalam objective.

1.      Empat Tipe Tes Acuan Patokan Dan Kegunaannya
     Ada empat tipe tes yang dapat dibuat, yaitu tes kemampuan awal, pretest, tes praktik atau latihan, dan posttest.
a.       Tes kemampuan awal (entry behavior)
Tes kemampuan awal diberikan kepada siswa sebelum memulai pembelajaran. Tes acuan patokan ini menilai penguasaan siswa terhadap keahlian prasyarat, atau keahlian yang harus dikuasai siswa sebelum memulai pembelajaran. Keahlian prasyarat muncul di bawah garis titik pada tabel analisis pembelajaran. Mungkin ditemukan bahwa siswa yang tidak memiliki entry behavior akan mengalami kesulitan dalam pembelajaran. Dan sebaliknya, kadang entry behavior justru tidak berpengaruh terhadap kesuksesan pembelajaran. Apabila siswa tidak memiliki kemampuan awal/entry behavior, maka tidak perlu merumuskan tujuan dan item tes. Tes kemampuan awal dilaksanakan manakala ada keterampilan yang membutuhkan keahlian prasyarat.
b.      Pretest
Tujuan pretest bukanlah untuk memperlihatkan pencapaian dalam belajar setelah pembelajaran dengan membandingkan dengan postest. Tujuan pretest adalah untuk memperlihatkan kepada siswa mengenai pandangannya terhadap analisis pembelajaran. Pretest dilakukan sebelum memulai pembelajaran untuk menentukan apakah siswa telah menguasai beberapa atau bahkan seluruh keterampilan dalam pembelajaran. Apabila seluruh keterampilan telah dikuasai maka tidak perlu diadakan pembelajaran. Namun apabila baru sebagian keterampilan yang dikuasai, maka hasil pretest dapat digunakan sebagai dasar oleh desainer untuk menyusun pembelajaran.
            Kadangkala pretest digabung dengan tes kemampuan awal, tetapi keduanya bukanlah satu dan sejenis. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki tujuan yang berbeda. Dari skor tes kemampuan awal dapat diketahui apakah siswa siap memulai pembelajaran, sedangkan dari skor pretest dapat diketahui pembelajaran harus dimulai darimana.
c.       Tes praktik
Tujuan tes ini adalah untuk memunculkan partisipasi siswa aktif selama pembelajaran. Tes praktik memungkinkan siswa untuk melatih pengetahuan dan keterampilan baru, dan menilai diri siswa mengenai tingkat pemahaman mereka terhadap pengetahuan dan keterampilan baru tersebut. Selain itu, tes ini juga dapat digunakan guru untuk memonitor langkah pembelajaran.
d.      Posttest
Postest dilakukan mengikuti pembelajaran, dan bobotnya sama dengan pretest. Posttest dapat digunakan untuk menilai penampilan siswa dan membantu desainer mengidentifikasi bagian pembelajaran mana yang tidak berhasil. Dari postest dapat diketahui pada bagian mana siswa mulai tidak memahami pembelajaran.

2.      Mendesain Tes
     Pertimbangan utama dalam mendesain dan mengembangkan tes acuan patokan adalah menjodohkan domain pembelajaran dengan item atau tipe tugas penilaian. Domain informasi verbal mempunyai ciri item tes dengan format jawaban singkat, menjodohkan, dan pilihan ganda. Domain informasi verbal ini cukup mudah diuji.
Sedangkan domain keterampilan intelektual bersifat lebih kompleks dan lebih sulit untuk menyusun item penilaian. Domain keterampilan intelektual misalnya membuat produk, atau penampilan (misal acting, memimpin rapat, memimpin orchestra, dll). Oleh karena itu sangat penting menuliskan petunjuk bagi siswa, membuat patokan untuk menilai kualitas, merubah patokan ke dalam checklist atau skala penilaian (rubrik), yang dapat digunakan unuk menilai produk.
Penilaian dalam domain sikap juga bersifat kompleks.  Biasanya tidak ada cara langsung yang dapat dipakai untuk mengukur sikap seseorang. Menyusun item penilaian untuk domain ini bisa dilakukan dengan mengamati sikap siswa dan menyimpulkan sikap siswa  dari tingkah laku mereka.

3.      Menentukan Level Penguasaan/Ketuntasan
Untuk tiap-tiap tujuan yang disusun, harus ada level patokan yang spesifik. Patokan ini berisi bagaimana siswa harus menunjukkan keterampilannya. Intinya, patokan menunjukkan level ketuntasan yang disyaratkan bagi siswa.
Bagaimana menentukan level penguasaan/ketuntasan? Peneliti menyatakan bahwa level “tuntas” adalah sederajat dengan level penampilan yang biasanya diharapkan dari siswa terbaik. Selain itu, ketuntasan terkait dengan statistik. Jika desainer ingin memastikan bahwa siswa benar-benar tahu suatu ketrampilan sebelum mereka beranjak pada unit pembelajaran selanjutnya, maka harus ada cukup peluang/kesempatan bagi siswa untuk menampilkan ketrampilannya. Hampir tidak mungkin suatu penampilan itu sempurna karena berubah dengan sendirinya. Pada beberapa situasi, definisi terbaik dari penguasaan/ketuntasan adalah level yang dibutuhkan agar berhasil. Melalui beberapa skill kompleks, ada kesinambungan penampilan, dari pemula menjadi ahli.

4.      Menulis Item Tes
Dalam mengembangkan tes acuan patokan, item tes harus ditulis dengan teknik yang tepat. Ada empat kategori kualitas item tes yang harus dipertimbangkan selama menyusun item tes dan tugas penilaian. Kategori ini adalah:
a.  Patokan berbasis tujuan (goal-centered criteria)
Item tes dan tugas harus sama dengan tujuan penampilan dan tujuan akhir. Untuk membandingkan antara respon yang disyaratkan dalam item tes dan perilaku yang dirinci dalam objective, desainer harus mempertimbangkan tugas pembelajaran atau kata kerja yang ditulis dalam objective. Objective yang meminta siswa untuk “menjelaskan atau mendefinisikan, melakukan dengan bimbingan, atau melakukan sendiri”, semuanya membutuhkan format pertanyaan dan respon yang berbeda.
Yang harus diperhatikan adalah berhati-hati dalam menuliskan perilaku yang dijelaskan dalam kata kerja dalam objective. Jika kata kerjanya menjodohkan, mendaftar, memilih, atau menjelaskan, maka item tes yang dibuat harus mengarahkan pada siswa untuk menjodohkan, mendaftar, memilih, atau menjelaskan.
b.  Patokan berbasis siswa (learner-centered criteria)
Item tes dan tugas penilaian harus dipadukan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Kriteria/patokannya antara lain: level bahasa dan kosakata siswa, level pengembangan untuk mengatur kompleksitas tugas yang tepat, level motivasi dan ketertarikan, pengalaman dan latar belakang, dan kebutuhan khusus. Kosakata yang digunakan dalam petunjuk pertanyaan dan di dalam pertanyaan itu sendiri harus tepat untuk siswa. Item tes tidak boleh ditulis menurut kosakata level desainer, kecuali jika levelnya sama dengan siswa. Siswa tidak boleh gagal menjawab pertanyaan dikarenakan istilah yang tidak dipahami. Jika definisi suatu istilah merupakan prasyarat untuk mempraktikkan keterampilan, maka definisi tersebut harus dimasukkan di dalam pembelajaran.
Pertimbangan lain berkaitan dengan hubungan antara konteks dan pengalaman adalah bahwa siswa tidak boleh gagal dalam mengerjakan item atau tugas karena mereka diminta untuk tampil dalam konteks yang tidak dipahami, atau menggunakan format penilaian yang tidak dipahami. Semakin tidak dipahaminya suatu contoh, tipe pertanyaan, format respon, dan prosedur administrasi tes, maka siswa akan semakin sulit untuk menyelesaikan tes.
Desainer juga harus peka terhadap isu gender dan perbedaan dalam menyusun item dan tugas. Item yang “bias”, baik penampilan maupun berlawanan dengan kelompok tertentu, maka hal tersebut tidak hanya tidak tepat tetapi juga tidak etis. Pada akhirnya, desiner harus mempertimbangkan suatu cara agar siswa menjadi evaluator bagi pekerjaan dan penampilan mereka sendiri. evaluasi diri dan penyempurnaan diri adalah dua tujuan utama dari seluruh pembelajaran karena keduanya mengarahkan kepada pembelajaran independen.
c.  Patokan berbasis konteks (context-centered criteria)
Item tes dan tugas harus serealistis mungkin atau sesuai dengan latar belakang penampilan aslinya. Kemungkinan yang terjadi dan sumber daya di lingkungan pembelajaran seringkali menjadi pertimbangan. Kadangkala latar belakang pembelajaran tidak bisa diatur sama persis dengan kenyataan/kondisi sesungguhnya. Semakin realistis suatu lingkungan tes, akan semakin valid respon siswa.
d.  Patokan berbasis penilaian (assessment-centered criteria)
Siswa mungkin merasa grogi selama penilaian. Oleh karena itu item dan tugas penilaian yang terkesan professional, serta disusun dengan baik dapat mengurangi kecemasan siswa. Kualitas penulisan tes meliputi: 1) tata bahasa, pengucapan, dan tanda baca yang benar; 2) penulisan yang jelas dan petunjuk yang sederhana; 3) sumber materi; dan 4) pertanyaan.
Agar siswa dapat memahami item dan tugas dengan jelas dan untuk mengurangi kecemasan siswa, maka sebelum siswa menjawab pertanyaan, mereka harus memperoleh semua informasi penting ataupun petunjuk untuk menjawab pertanyaan. Idealnya, siswa membaca pertanyaan dan petunjuk, memikirkan jawaban, baru kemudian menjawab atau menuliskan jawaban. Ketika siswa melakukan kesalahan, maka hal itu disebabkan mereka tidak memiliki keterampilan, dan bukan disebabkan karena item tes atau penilaian yang sulit dan membingungkan.

5.      Menentukan Kriteria Penguasaan/Ketuntasan
Ada beberapa saran praktis yang dapat membantu menentukan kebutuhan item tes dari sebuah objective.
a.       Jika item atau tes membutuhkan format respon yang memungkinkan siswa menebak jawaban dengan benar, maka masukkanlah beberapa item paralel untuk objective yang sama.
b.      Jika hanya sedikit kemungkinan menebak jawaban yang benar, maka cukup masukkan 1 atau 2 item.
c.       Jika menguji pertanyaan dari sejumlah item dalam ukuran domain pembelajaran, akan lebih mudah bila item dispesifikkan.
1)      Pada domain keterampilan intelektual, biasanya memerlukan 3 atau lebih kesempatan untuk mendemonstrasikan keterampilan.
2)      Pada domain informasi verbal, membutuhkan 1 item untuk memperoleh informasi
3)      Pada domain psikomotor, biasanya membutuhkan 1 cara untuk menguji keterampilan, yaitu praktik.

6.      Jenis Item
Setiap jenis tes item memiliki kekuatan dan keterbatasan. Untuk memilih jenis item terbaik perlu mempertimbangkan faktor waktu untuk merespon yang diperlukan oleh peserta didik, waktu yang diperlukan untuk menganalisis dan menilai jawaban, lingkungan ujian (peralatan dan fasilitas), dan peluang untuk menebak jawaban yang benar.
Tabel: Jenis perilaku dan hubungannya dengan jenis item
Jenis perilaku yang tertuang dalam objective
Jenis item tes
Melengkapi
Jawaban singkat
Menjodohkan
Pilihan ganda
Essay
Pengembangan produk
Penampilan langsung
Menyebutkan/
menamakan
P
P





Menjelaskan
P
P
P
P



Mengidentifikasi
P
P
P
P



Membedakan

P
P
P



Memilih

P
P
P



Menempatkan

P
P
P



Mengevaluasi

P
P
P



Menyelesaikan (mslh)

P
P
P
P
P
P
Mendiskusikan




P

P
Mengembangkan




P
P
P
Membangun




P
P
P
Menghasilkan




P
P
P
Mengoperasikan






P
Memilih (sikap)






P
Sumber: Dick, Carey & Carey (2005: 155)



7.      Urutan Item
Tidak ada aturan mutlak yang memberikan petunjuk dalam mengurutkan item pada tes keterampilan intelektual atau informasi verbal, tetapi ada saran yang dapat membantu. Keputusan final biasanya didasarkan pada kondisi pengujian yang khusus dan penampilan yang akan diuji.
Suatu urutan strategi untuk desainer, adalah mengelompokkan item untuk satu objective bersama, tanpa memperhatikan format item. Satu-satunya jenis item yang akan menjadi pengecualian untuk strategi ini adalah pertanyaan esai panjang. Pertanyaan seperti itu biasanya terletak di akhir tes untuk membantu siswa dalam mengelola waktu mereka selama ujian. Pengorganisasian tes seperti ini jauh lebih fungsional baik bagi siswa dan guru. Dimana  memungkinkan siswa untuk berkonsentrasi pada satu bidang informasi dan ketrampilan sekaligus, dan memungkinkan guru menganalisis penampilan individu dan kelompok sesuai tujuan.

8.      Menuliskan Petunjuk
Sifat ujian berubah sesuai dengan situasi tes, namun informasi berikut biasanya ditemukan di petunjuk tes:
a.       Judul tes sebaiknya menunjukkan isi, bukan hanya sekedar “pretest” atau "Ujian I".
b.      Sebuah pernyataan singkat menjelaskan tujuan atau penampilan yang akan ditunjukkan. Dan jumlah nilai yang akan diberikan untuk jawaban yang benar.
c.       Siswa diberitahu apakah mereka harus menebak jika tidak yakin dengan jawabannya.
d.      Perintah harus spesifik bahwa kata-kata harus dieja dengan benar untuk memperoleh informasi yang utuh.
e.       Siswa diberitahu bahwa mereka harus menggunakan nama mereka atau hanya identitas diri singkat sebagai anggota kelompok.
f.       Batas waktu, batas kata, atau batas wilayah harus disampaikan. Selain itu, peserta didik harus mengetahui apakah mereka memerlukan sesuatu yang khusus untuk mengerjakan ujian seperti pensil nomor 2, lembar jawaban dihitung dengan mesin, teks khusus, atau peralatan khusus seperti komputer, kalkulator, atau peta.

9.      Evaluasi Tes dan Item Tes
Desainer harus memastikan hal berikut: (1) Petunjuk cukup jelas, sederhana, dan mudah diikuti; (2) setiap item cukup jelas dan memberitahu siswa informasi atau stimulus yang diinginkan; (3) kondisi respon/jawaban yang dibuat adalah realistis; (4) metode respon jelas bagi siswa, dan (5) ruang, waktu, dan peralatan yang tepat memungkinkan bagi siswa untuk merespon dengan baik.
Setelah tes ditulis, perancang harus melakukan uji coba pada satu atau beberapa siswa. Hal ini dapat mencegah kecemasan dan buang waktu untuk guru dan siswa, atau bahkan hasil ujian yang tidak sah. Dan setelah ujian diberikan, desainer harus menilai hasilnya. Tes yang tidak bisa dikerjakan siswa harus dianalisis dan direvisi sebelum diberikan lagi pada siswa.
Ketika menyusun item tes, desainer harus ingat bahwa tes mengukur kecukupan (1) tes itu sendiri, (2) formulir respon, (3) materi pembelajaran, (4) situasi dan lingkungan, dan (5) hasil yang dicapai siswa.

10.  Mengembangkan Instrumen untuk mengukur Penampilan, Produk, dan Sikap
a.      Menulis Petunjuk
Petunjuk bagi siswa untuk tampil dan menghasilkan produk harus menggambarkan apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya. Kondisi khusus, seperti batas waktu atau sumber daya harus dijelaskan. Perlu juga mempertimbangkan jumlah petunjuk yang harus disediakan, mengingatkan peserta didik untuk melakukan langkah-langkah tertentu dan memberitahu mereka mengenai kriteria yang akan digunakan dalam mengevaluasi pekerjaan mereka.
b.      Mengembangkan Instrumen
Ada lima langkah dalam mengembangkan instrumen:
a.    Mengidentifikasi unsur-unsur yang akan dievaluasi.
b.    Memberi keterangan pada setiap elemen.
c.    Mengurutkan elemen pada instrumen.
d.    Memilih jenis penilaian yang harus dibuat.
e.    Menentukan bagaimana instrumen akan dinilai.
c.       Mengidentifikasi, Memberi keterangan , dan mengurutkan Elemen
Kategori elemen biasanya meliputi aspek bentuk fisik objek atau penampilan, fungsi produk atau penampilan, kualitas dari produk atau penampilan. Setiap elemen harus diberi keterangan untuk dimasukkan pada instrumen. Misalnya kata “Ya” yang mencerminkan hasil positif dan “Tidak” yang mencerminkan hasil negatif. Setelah unsur-unsur diberi keterangan, selanjutnya harus diurutkan pada instrumen. Misalnya, checklist evaluasi paragraph atau essay akan mencakup: pendahuluan, inti (ide-ide yang mendukung), dan terakhir kesimpulan.
d.      Mengembangkan Format Respon/tanggapan
Setidaknya ada tiga format respon evaluasi, yaitu: checklist (misalnya ya atau tidak); skala yang berisi perbedaan kualitas (misalnya, jelek, cukup, dan bagus); frekuensi hitung dari setiap elemen yang dipertimbangkan; atau kombinasi format ini.

e.       Prosedur penskoran/pemberian nilai
Prosedur penskoran perlu direncanakan dulu untuk memulai menilai penampilan siswa. Checklist adalah instrumen yang paling mudah diberi score.

11.  Menggunakan Penilaian Portofolio
Portofolio adalah kumpulan penilaian acuan patokan yang menggambarkan pekerjaan siswa. Penilaian ini mungkin tentang  hasil tes menunjukkan kemajuan dari pretest ke posttest, produk yang dikembangkan peserta didik selama pengajaran, atau live performance/penampilan. Portofolio mungkin juga termasuk penilaian sikap siswa dari domain belajar atau pembelajaran.
Ada beberapa bentuk penilaian portofolio yang berkualitas. Pertama, sampel pekerjaan harus sesuai dengan  tujuan pembelajaran spesifik dan objective penampilan. Kedua, sampel pekerjaan harus merupakan penilaian acuan patokan yang dikumpulkan selama proses pembelajaran. Ketiga, setiap penilaian reguler disertai dengan rubrik yang berisi tanggapan siswa yang dievaluasi dan dinilai, yang menunjukkan kekuatan dan masalah-masalah dalam penampilan.
Penilaian portofolio tidak sesuai untuk semua pembelajaran karena sangat memakan waktu dan mahal. Pembelajaran memerlukan rentang waktu panjang agar pelajar memiliki waktu untuk mengembangkan dan memperbaiki keterampilan. Pembelajaran juga harus menghasilkan produk yang diperlukan untuk penilaian kinerja.

12.  Mengevaluasi kesesuaian dalam Proses Desain
Dalam pendekatan sistem desain pembelajaran, output dari satu langkah merupakan input untuk langkah selanjutnya. Oleh karena itu, sangat penting untuk menghentikan secara berkala untuk menentukan apakah produk yang dibuat ini sesuai langkah demi langkah dalam proses.
Bagaimana mengatur dan menyajikan bahan-bahan sehingga dapat mengevaluasinya dalam proses desain pebelajaran? Satu kriteria adalah bahwa setiap komponen dibangun pada produk dari sebelumnya, dan oleh karena itu materi harus disajikan dengan cara yang memungkinkan perbandingan antara berbagai komponen desain. Desainer harus dapat melihat apakah komponen paralel dan memadai. Salah satu cara untuk mencapai tujuan ini adalah mengatur bahan-bahan sehingga komponen yang terkait dijadikan satu.

C.       CONTOH           
Ketika menguji item tes, dapat menggunakan empat kategori criteria/patokan yang telah dibahas sebelumnya di depan, yaitu: Patokan berbasis tujuan/goal-centered criteria, Patokan berbasis siswa/learner-centered criteria, Patokan berbasis konteks/context-centered criteria, dan Patokan berbasis penilaian/assessment-centered criteria. Tabel berikut berisi checklist dari empat kriteria.
Tabel: Contoh Checklist dari Kriteria untuk Mengevaluasi Item Test
Ya
Tidak
Kriteria


I.
Kesesuaian item-objektive: Apakah materi yang tertulis dalam tes sesuai dengan:



1.      Kondisi yang ditetapkan dalam objektive?



2.      Perilaku yang ditetapkan dalam objective?



3.      Konsep yang ditetapkan dalam objective?



4.      Kriteria yang ditetapkan dalam objective?


II.
Kesesuaian item-siswa: Untuk siswa yang didesain, apakah  item berhubungan dengan:



1.      Kerumitan kosa kata dan struktur kalimat?



2.      Pemahaman konteks, contoh, dan skenario?



3.      Pemahaman format penilaian dan/atau peralatan yang diperlukan?



4.      Ketiadaan bahan yang bias (contoh jenis kelamin, budaya, politik?)


III.
Kesesuaian item dari segi konteks: Apakah penampilan yang diperlukan dalam pengujian sesuai untuk:



1.      Konteks peserta didik?



2.      Konteks penampilan?


IV.
Kejelasan: Apakah materi yang ditulis dalam item tes:



1.      Bebas dari kesalahan tatabahasa dan ejaan?



2.      Dinyatakan dengan jelas?



3.      Tepat, sesuai dengan kata kunci dan konsep?



4.      Langsung dan mudah?
Sumber: Dick, Carey & Carey (2005: 165)

1.      Checklist Untuk Mengevaluasi Keterampilan Motorik
Dalam mengukur penampilan keterampilan motorik, diperlukan petunjuk untuk penampilan dan rubrik yang dapat digunakan untuk merekam evaluasi kinerja/penampilan. Informasi yang dimasukkan ke dalam petunjuk didasarkan pada kepraktisan dan administrasi ujian. Petunjuk ini memberikan informasi bagi siswa, bahwa jika mereka ingin memperoleh nilai, mereka harus: (1) memperhatikan setiap langkah, (2) tampil dengan menggunakan perangkat yang tepat, (3) menggunakan alat dengan benar, dan (4) selalu sadar akan keselamatan dalam melaksanakan setiap langkah.

Tabel: Contoh Checklist untuk Mengevaluasi Kemampuan Psikomotorik (Mengganti Ban)
Nama
 Karen Haeuser
Hari ______________
Skor
_____

(   )
_________

1.
Memperoleh cadangan dan alat-alat

        (   )
11

2.
Mengangkat mobil
Ya
Tidak


( 13 )


2.1. 
Memeriksa pengoperasian dongkrak






a.       Menempatkan dongkrak secara aman
x





b.      Memompa untuk menaikkan dongkrak
x





c.       Melepaskan dan menurunkan dongkrak
x




2.2. 
Posisi dongkrak






a.       Cek lokasi mobil, stabilitas
x





b.      Relokasi mobil, jika diperlukan
x





c.       Tempatkan spot pada bingkai untuk menempelkan dongkrak
x





d.      Tempatkan posisi dongkrak dengan tepat pada spot
x




2.3. 
Menempelkan dongkrak pada mobil






a.       Naikkan dongkrak hingga bertemu bingkai
x





b.      Evaluasi kontak antara dongkrak-mobil

x




c.       Sesuaikan lokasi dongkrak jika diperlukan

x



2.4. 
Harap blok di samping roda






a.       Tempatkan blok dengan tepat
x





b.      Tempatkan blok sebelum roda
x





c.       Tempatkan blok di belakang roda
x

__________

3.
Pindahkan ban


(     )





__________

4.
Ganti ban


(     )







Dsb.











Sumber: Dick, Carey & Carey (2005: 167)



2.      Instrumen untuk Mengevaluasi Perilaku Terkait Sikap
            Berikut adalah contoh instrumen mengenai sikap teller bank.

Robert Jones
 
Tabel: Instrumen Menghitung Frekuensi untuk Mengevaluasi Perilaku darimana
                  Sikap-Sikap akan Disimpulkan (Layanan Kesopanan)

Nama
_________________________________________
Hari
4/10. 17. 24
Total Transaksi yang Diobservasi
IIII  IIII  IIII     Total   +186
Total
-19


Yes
No
A.
Pendekatan Pelanggan dan Teller



1.   
Senyum
IIII  IIII
IIII

2.   
Memulai ucapan verbal
IIII  IIII  IIII


3.   
Komentar pribadi
IIII  IIII  IIII


4.   
Meminta maaf ketika layanan tertunda
IIII
II

5.   
Menanyakan tentang servis
IIII  IIII  IIII
I

6.   
ada di semua garis/lini
IIII  IIII 
III

7.   
Lainnya:


B.
Selama transaksi, Teller:



1.   
Mendengarkan dengan penuh perhatian
IIII  IIII  IIII


2.   
Meminta informasi klarifikasi
IIII  IIII


3.   
Menyediakan formulir yang diperlukan
IIII  IIII 


4.   
Melengkapi /membetulkan formulir
IIII  IIII


5.   
Menjelaskan perubahan yang dilakukan
IIII  IIII


6.   
Menjelaskan bahan yang dikembalikan
IIII  IIII  II
III

7.   
Lainnya:


C.
Menyelesaikan Transaksi, Teller:



1.   
Menanyakan tentang servis-servis lain
IIII  IIII  IIII


2.   
Berkata, "Terima kasih"
IIII  IIII  IIII


3.   
Merespon komentar pelanggan
IIII  IIII 
IIII

4.   
Membuat kesimpulan apa yang diharapkan
IIII  IIII  IIII


5.   
Lainnya:










Sumber: Dick, Carey & Carey (2005: 168)

Dalam menentukan cara menilai instrumen, jumlah perilaku yang dianggap positif (186) diberi turus, dan yang dianggap negatif (19) juga diberi turus. Kesimpulan dari data, ternyata teller berlaku sopan kepada pelanggan. Informasi ini dapat diinterpretasikan dengan dua cara. Jika teller tidak menyadari pengamatan, maka dapat disimpulkan bahwa memang teller memiliki sikap positif dalam memberikan pengetahuan dan layanan ramah. Sebaliknya, jika teller telah menyadari pemeriksaan, maka dapat disimpulkan bahwa teller bersikap ramah selama transaksi dengan pelanggan karena di bawah pengawasan.

D.       Studi Kasus: Kelompok Pelatihan Kepemimpinan
1.      Item Tes untuk Informasi Verbal dan Keterampilan Intelektual
Berikut adalah contoh item tes untuk Informasi verbal dan Keterampilan Intelektual.
Tabel: Item tes paralel untuk Tujuan Penampilan/kinerja Informasi Verbal dan   Keterampilan Intelektual dalam Tabel 6.5 untuk Tujuan Pembelajaran: Memimpin Diskusi Kelompok dengan Tujuan untuk Menyelesaikan Masalah

Tujuan Penampilan untuk Keterampilan Subordinat
Item Tes Paralel
6.1.1   
Ketika diminta menulis nama tindakan anggota kelompok yang memfasilitasi interaksi kerjasama (CN), Sebutkan tindakan tersebut (B). Minimal enam tindakan fasilitasi harus disebutkan (CR).
1.      Daftarlah tindakan positif yang Anda dan anggota komite harus lakukan untuk memfasilitasi  interaksi kelompok kerjasama selama pertemuan NCW. (Buat baris untuk sembilan tanggapan.)
6.1.2   
Ketika ditanyakan secara tertulis untuk menunjukkan apa yang harus dilakukan oleh anggota ketika ide-ide mereka dipertanyakan oleh kelompok (CN), sebutkan reaksi positif yang mem-bantu memastikan interaksi kelompok kerja-sama (B). Siswa harus menyebutkan setidaknya tiga reaksi yang mungkin (CR).
1.      Misalnya anda memperkenalkan gagasan baru selama rapat NCW dan nilai ide Anda dipertanyakan oleh satu atau lebih anggota komite. Reaksi positif apa yang mungkin anda punya untuk  memfasilitasi interaksi kelompok kerjasama? (Buat baris untuk empat baris tanggapan.)
6.2.1   
Diberikan penjelasan tertulis dari anggota grup yang memfasilitasi tindakan selama pertemuan (CN), tunjukkan bahwa tindakan adalah perilaku kerjasama (B). Siswa harus meng-klasifikasikan dengan benar setidaknya 80 % dari tindak-an yang dijelaskan (CR).
1.      Bacalah skrip dari pertemuan NCW yang diilustrasikan dalam Gambar 1. Setiap kali pemimpin atau anggota kelompok NCW menunjukkan perilaku kerjasama, tempatkan tanda centang di samping baris dalam script.
6.2.2   
Diberikan Video tahap pertemuan NCW yang menggambarkan tindakan anggota (CN), tunjukkan apakah tindakan adalah kerjasama (B). Siswa harus mengklasifikasikan dengan benar minimal 80 % dari tindakan yang didemon-strasikan (CR).
(Catatan Pembaca: video dan lembar Tanggapan keduanya terletak di bagian ujian praktek di pelatihan berbasis web  NCW)
PETUNJUK:
Keterampilan: klasifikasikan tindakan kerjasama Pemimpin dan Anggota NCW. klik tombol video di sebelah kiri layar dan pilihlah video 1 dari daftar isi yang muncul. Kemudian:
(a)  Tandai dan cetaklah Formulir tanggapan Pemimpin pada Video 1.
(b)  Pelajari formulir tanggapan, bacalah petunjuk dalam rangka menandai tanggapan Anda.
(c)  tempatkan tombol judul video 1 pada layar Anda dan klik pada judul video 1 bila Anda sudah siap untuk melengkapi penilaian.
(d)  Apabila Anda sudah selesai (anda dapat melihat video dua kali dalam proses menyelesaikan penilaian Anda), klik pada umpan balik video-1 pada dalam menu video.
(e)  Bandingkan peringkat Anda dengan yang terdapat dalam umpan balik video 1 dan perhatikan perbedaannya.
(f)   simpan tanggapan Anda dan catatan tentang perbedaan, dan membawa mereka ke sesi pembelajaran berikutnya di pusat.
6.3.1   
Ketika ditanyakan secara tertulis nama tindakan pemimpin yang mendorong dan  menyurutkan anggota diskusi dan kerja sama (CN), nama tindakan (B). Siswa harus menyebutkan setidak-nya sepuluh nama tindakan yang mendorong dan menyurutkan (CR).
Daftarlah 12 tindakan positif dan tindakan menyurutkan, dimana anda sebagai pemimpin NCW dapat lakukan untuk mempengaruhi interaksi anggota selama pertemuan NCW. (Buat baris untuk dua belas tanggapan positif dan tindakan menyurutkan semangat.)

6.4.1   
Diberikan penjelasan tertulis tentang tindakan pemimpin kelompok selama pertemuan (CN), tunjukkan apakah tindakan cenderung mendorong atau menyurut-kan interaksi kelompok kerjasama (B). Siswa harus Mengklasifikasikan dengan benar minimal 80 % dari tindakan yang digambarkan (CR).
1.Bacalah script pertemuan NCW yang digambarkan dalam gambar 2. Setiap kali pemimpin dari kelompok NCW menunjukkan perilaku yang cenderung mendorong kerjasama anggota, tempatkan tanda centang (√) di samping kiri script di baris skrip yang sesuai. Sebaliknya, setiap kali perilaku pemimpin menunjukkan perilaku yang cenderung menyurutkan kerjasama anggota, tempatkan tanda centang di sebelah kanan script di samping baris.
6.4.2   
Diberikan Video tahap pertemuan NCW yang melukiskan tindakan pemimpin (CN), tunjukkan apakah tindakan pemimpin cenderung mendorong atau menyurutkan kerjasama anggota (B). Siswa harus mengklasifikasikan dengan benar minimal 80 % dari tindakan mendorong dan tindakan menyurutkan  yang ditunjukkan (CR).
(Catatan Pembaca: video dan lembar Tanggapan keduanya terletak di bagian ujian praktek di pelatihan berbasis web NCW)

PETUNJUK:
Skill: Klasifikasikan Tindakan Pemimpin NCW yang cenderung untuk mendorong dan menyurutkan kerjasama anggota. 
(a)    Tandai dan cetaklah Formulir tanggapan Pemimpin pada form 2.
(b)   Pelajari formulir tanggapan, bacalah petunjuk dalam rangka menandai tanggapan Anda.
(c)    Tempatkan video 2 pada menu video di layar Anda dan klik pada judul video 2 bila Anda sudah siap untuk melengkapi penilaian.
(d)   Apabila Anda sudah selesai (anda dapat melihat video dua kali dalam proses menyelesaikan penilaian Anda), klik pada umpan balik video-2 pada dalam menu video.
(e)    Bandingkan peringkat Anda dengan yang terdapat dalam umpan balik video 1 dan catat perbedaannya.
(f)    Simpan tanggapan form 2 dan catatan tentang perbedaan, dan membawa mereka ke sesi pembelajaran berikutnya di pusat.
6.5.1   
Dalam simulasi pertemuan penyelesaian masalah NCW dengan siswa yang berperan  sebagai p emimpinkelompok (CN), tetapkan tindakan yang menghasilkan perilaku kerjasama di antara anggota (B). Anggota kelompok bekerja sama dengan lainnya dan dengan pemimpin saat diskusi (CR).
PETUNJUK:
KETERAMPILAN: Menghasilkan perilaku kerjasama diantara anggota.
 
Selama pertemuan NCW hari ini, Anda akan bertindak sebagai pemimpin NCW selama tiga puluh menit. Selama pertemuan tersebut, seorang anggota (staf) akan mengenalkan masalah yang sebelumnya tidak dibahas dalam kelompok. Anda akan memimpin diskusi kelompok agar masalah didikusikan dan mendemonstrasikan tindakan sebelum kelompok yang Anda percaya akan menghasilkan partisipasi kerjasama anggota. Jika Anda memiliki pertanyaan tentang tindakan Anda atau tindakan  yang lain, jangan  dibahas  dengan staf atau anggota kelompok sampai tiga puluh menit selesai.
Sumber: Dick, Carey & Carey (2005: 170)

2.      Bahan untuk Mengevaluasi Desain
Dalam mengevaluasi kesesuaian antara berbagai elemen desain, dapat menggunakan prosedur sebagai berikut:
a.       Setiap pernyataan keterampilan dalam analisis tujuan harus sama dengan kata-kata pada keterampilan subordinat.
b.      Perilaku yang dijelaskan dalam keterampilan harus dimasukkan pada objective penampilan/kinerja yang sesuai. Ketrampilan dan kinerja objektif seharusnya hanya berbeda dalam kondisi yang mungkin dan kriteria yang telah ditambahkan.
c.       Tentukan apakah tujuan penampilan masuk akal bila diberikan pada konteks tertulis dan criteria/patokan pengembangan tujuan. Tinjau ulang (a) deskripsi karakteristik siswa, karakteristik penampilan, dan karakteristik pembelajaran; dan (b) checklist untuk evaluasi tujuan penampilan. Dengan menggunakan dokumen ini sebagai standar pengembangan, Anda mungkin tidak hanya bisa menilai kesesuaian, tetapi juga akan mengidentifikasi perbaikan yang akan meningkatkan keterkaitan Anda.
d.      Nilailah kesesuaian antara tujuan penampilan dan item tes berdasarkan tujuan. Anda tidak hanya memerlukan grafik desain evaluasi tetapi juga siswa dan deskripsi untuk menilai kesesuaian antara item, tujuan, siswa, dan konteks. Anda juga akan menggunakan checklist kriteria item tes. Dengan desain elemen di tangan, Anda akan dapat menilai dengan lebih baik kesesuaian desain dan kualitas.

E.       Rangkuman
Dalam rangka mengembangkan tes acuan patokan, diperlukan daftar tujuan penampilan yang didasarkan pada analisis pembelajaran. Perilaku, dan patokan yang ada dalam setiap tujuan akan membantu menentukan format yang terbaik untuk instrumen penilaian.
Format tes objektive akan tepat untuk tujuan informasi verbal dan kemampuan intelektual, namun tetap harus diputuskan format item objective apa yang paling sesuai dengan kondisi dan perilaku yang dituliskan. Item Objektive harus ditulis untuk meminimalkan kemungkinan menebak jawaban dengan benar, dan harus ditulis dengan jelas agar semua pemacu atau tanda dalam yang dituliskan dalam objective/tujuan, muncul pada item atau pembelajaran. Juga harus ditentukan berapa banyak item yang diperlukan untuk mengukur kecukupan penampilan siswa pada setiap tujuan. Dalam menentukan jumlah item yang dibuat, perlu mempertimbangkan berapa kali informasi atau keterampilan itu akan diuji. Sejumlah item harus dibuat untuk mendukung pretest dan postest. Bila memungkinkan, siswa harus diberi item yang berbeda tiap kali objective diukur.
Beberapa keterampilan intelektual tidak dapat diukur dengan item tes tujuan. Contohnya adalah menulis paragraf, membuat pidato persuasif, dan menganalisis dan membandingkan beberapa bentuk metode yang berbeda untuk meramalkan tren ekonomi. Keterampilan intelektual yang menghasilkan produk atau penampilan, keterampilan psikomotor, dan perilaku yang berkaitan dengan sikap harus diukur dengan menggunakan tes yang berisi perintah untuk siswa dan instrumen pengamatan untuk penilai. Dalam menyusun hal tersebut, Anda harus mengidentifikasi, memberi keterangan, dan menghubungkan elemen produk yang diobservasi, penampilan, atau perilaku. Selain itu juga harus memilih format penilaian yang masuk akal bagi penilai dan menentukan bagaimana instrumen akan diberi nilai/skor.
Kualitas item dan instrumen tergantung pada kualitas tujuan, yang pada gilirannya tergantung pada kualitas analisis pembelajaran dan tujuan yang dibuat. Setelah memeriksa item yang telah dikembangkan dari tujuan, Anda harus berhenti dalam proses desain dan mengevaluasi keseluruhan untuk desain ini, kemudian melakukan revisi jika diperlukan untuk keseluruhan kualitas dan kesesuaian.

  Daftar Pustaka
Dick Walter ,  Carey Lou & Carey James O., The Systematic Design of Instruction, Allyn & Bacon.

0 komentar:

Post a Comment